Kamis, 06 September 2018

Air Terjun Sekar Langit


Air Terjun Sekar Langit
A.     Latar Belakang
Cerita rakyat, salah satu kategori dalam folklor, menjadi bagian dari fenomena budaya tiap bangsa yang kebertahanannya terus dibuktikan melalui kehadirannya melintasi peradaban jaman terbaru. Transformasi di dalamnya pun menjadi wujud nyata bahwa cerita rakyat menempati fungsinya secara nyata. Namun demikian, adakalanya anggota kolektif cerita rakyat tertentu merasa bahwa cerita yang diwariskan oleh nenek moyangnya dan ditumbuhkembangkan ke generasi yang lebih muda merupakan cerita milik bangsanya. Di sisi lain, masyarakat tertentu terus menelusuri asal-usul cerita yang dirasakan sudah menjadi miliknya namun kenyataan lain menunjukkan bahwa di wilayah lain yang dipisahkan oleh lautan luas dan benua, cerita yang nyaris serupa tumbuh dan berkembang pula dengan pengakuan kepemilikannya.
Kebudayaan pada hakikatnya merupakan wujud dari upaya manusia dalam menanggapi lingkungan secara aktif. Kemampuan manusia dalam menanggapi lingkungannya secara aktif dimungkinkan karena adanya kemampuan dan kebersihan manusia dalam menggunakan lambang-lambang yang diberi makna dan arti secara sistematis, sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi secara efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan bersifat dinamis, dimana kebudayaan akan berkembang selama masyarakat pendukungnya masih ada dalam mengembangkan kebudayaan.
Berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia menimbulkan suku bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Dari keanekaragaman tersebut melahirkan suatu kehidupan sastra yang unik. Dari sinilah timbul bahwa pengkajian terhadap sastra merupakan kajian yang cukup menarik. Dengan memperhatikan segi media yang digunakan, sastra yang tersebar menggunakan media lisan yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata, itulah sebabnya ada yang menyebutkan sebagai tradisi lisan (oral tradition).
Hal tersebut di atas menyiratkan bahwa kebudayaan sebagai hasil kreatifitas manusia, hasil aktifitasnya maupun hasil karya manusia, di dalamnya terkandung juga nilai-nilai atau ide dari manusia. Segala gagasan dan angan angan, keinginan atau pun cita-cita manusia terefleksi ke dalam hasil karya mereka yang disebut dengan kebudayaan. Nilai-nilai atau ide yang terdapat di dalam suatu kebudayaan, terbentuk secara sangat manusiawi dan pribadi sifatnya. Oleh karena itu, setiap benda budaya menandai nilai tertentu, menunjukkan maksud serta gagasan penciptanya.
Kebudayaan yang sangat kompleks tersebut terkandung unsur-unsur universal yang ada di dunia ini. Unsur-unsur kebudayaan tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan yang disebut sebagai isi pokok dari kebudayaan di dunia. Unsur-unsur kebudayaan yang universal tersebut selanjutnya diambil menjadi tujuh unsur kebudayaan yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap kebudayaan di dunia (Koentjaraningrat, 1990: 203) yakni bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, kesenian. Di antara sekian banyak bagian kebudayaan tersebut merupakan bagian dari folklor.
Folklor sebagai bagian dari kebudayaan seperti bagian kebudayaan yang lainnya, di dalamya juga terkandung nilai-nilai budaya serta gagasan-gagasan masyarakat. Lewat folklor dapat dipelajari segala aspek kehidupan masyarakat segala keinginan mereka yang terefleksikan secara implisit maupun eksplisit di dalam suatu folklor.
Folklor sebagai suatu disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di Indonesia belum lama dikembangkan orang (Danandjaja, 1991: 1). Folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu: folklor lisan, folklor sebagaian lisan, dan folklor bukan lisan (Brunvand, dalam Danandjaya, 1991: 21 ). Adapun folklor lisan juga masih dibagi dalam beberapa kelompok, di antaranya adalah cerita prosa rakyat. Sebagai sebuah jenis sastra yang hidup dalam tradisi lisan, cerita prosa rakyat tiada terunut lagi akan siapa nama pengarangnya (anonim). Hal ini menjadi salah satu dari ciri-ciri pengenal folklor. Yang ada hanya bahwa cerita prosa rakyat lahir dari suatu masyarakat tradisional yang masih memegang teguh tradisi lisannya. Cerita tersebut berkembang, menjadi besar, dan menghilang di dalam masyarakat pemiliknya. Hubungan di antara ke duanya, cerita rakyat dan pemiliknya, bukan merupakan sesuatu yang dicari-cari atau hanya mengada-ada saja, sebab, sudah jelas bahwa cerita prosa rakyat itu menampilkan gambaran kehidupan sebagai produk sosialnya.
Salah satu bentuk cerita rakyat yang menarik untuk diteliti adalah cerita rakyat yang berkenaan dengan asal-usul penamaan suatu tempat. Cerita rakyat tersebut apabila dikelompokkan, termasuk pada genre cerita rakyat legenda setempat (local legends). Penamaan suatu tempat tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan dengan berbagai hal yang pada intinya menyangkut kebudayaan suatu masyarakat.
Dengan demikian, agar dapat menemukenali karakter cerita rakyat, tulisan ini akan memusatkan perhatian pada cerita rakyat sebagai gejala kelisanan. Selain itu, perspektif kelisanan yang dipakai untuk mengkaji cerita rakyat dalam tulisan ini juga dapat dipandang sebagai tanggapan (reaksi) terhadap kecenderungan logocentrism dalam kehidupan akademis masa kini, yang tanpa disadari meminggirkan atau mengabaikan kenyataan kelisanan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pada titik ekstrim, kecenderungan logocentrism yang berlebihan dalam dunia ilmu pengetahuan akan memunculkan jurang keterpisahan.
Cerita rakyat tidak sekedar hidup dan tersebar dalam masayarakat, namun juga memiliki arti penting dan fungsi-fungsi tertentu bagi kolektif pemiliknya. Pengkajian terhadap cerita rakyat bisa dijadikan sarana yang tepat untuk penamaan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat yang sekarang ini sudah banyak dilupakan, selain untuk perkembangan sastra lisan itu sendiri. Usaha untuk menggali, memperkenalkan, menghidupi dan mengembangkan budaya tradisional yang bernilai positif itu sangat perlu dan tidak hanya untuk tradisi itu sendiri, tetapi lebih luas juga berguna dalam menunjang pembangunan nasional. Objek penelitian sastra lisan yang saya pilih adalah Legenda Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan Jaka Tarub di berbagai tulisan-tulisan yang sangat mudah ditemukan melalui internet. Dalam hal ini, peneliti mencari data dan informan, salah satu cara untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan cara terjun langsung kedalam masyarakat yang berada disekitar Air Terjun Sekar Langit tersebut dan mencari sumber yang dapat dijadikan informan.
B.     Manfaat Penelitian
Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan terutama dalam bidang sastra lisan, dan dapat mempelajari kebudayaan yang belum terungkap sebelumnyasedangkan untuk peneliti selanjutnya diharapkan bisa menjadi referensi dan dijadikan acuan bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih banyak tentang mitos atau legenda yang ada Air Terjun Sekar Langit.


C.    Landasan teori
1.      Hakikat Folklor
Secara etimologis kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, kata dasarnya folk dan lore (Danandjaja, 1984:1). Folk menurut Alan Dundes adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu, antara lain, dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, dll.
Dananjaja menyimpulkan bahwa folk adalah sinonim dengan klektif yang juga memilik ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat, dan yang dimaksud lor adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat.
Foklor menurut Dananjaja, tidak lain adalah sebagian kebudayaan suatu kolektof yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisoanal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja, 1984:2).
2.      Bentuk folklor
Folklor jika diperhatikan dari segi bentuknya, ternyata ada dua, yaitu bentuk lisan dan sebagian lisan (Danandjaja, 1984: Bab III).
Bentuk folklor lisan antar lain:
1.      Bahasa rakyat, yakni bentuk folklore Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat, adalah logat atau dialek bahasa-bahasa Nusantara.
2.      Ungkapan tradisonal yakni yang termasuk dalam bentu folklore semacam ini adalah peribahasa (peribahasa yang sesungguhnya, peribahasa tidak lengap kalimatnya, peribahasa perumpamaan) dan ungkapan (ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa).
Pertanyaan tradisoanal yakni yang lebih dikenal sebagai teka-teki merupakan pertanyaan yang bersifat tradisonal dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Sajak dan puisi rakyat yakni follor lisan yang memiliki kekhususan, kalimatnya tidak berbentuk bebas, tapi terikat. Sajak dan puisi rakyat merupakan kesusastraan yang sudah tertentu betuknya, baik dari segi jumlah larik maupun persajakan yang mengekhiri setiap lariknya. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah parikan, rarakitan, wawangian, dll.
Cerita prosa rakyat, yakni jenis folklore yang paling benyak diteliti oleh para peniliti/ ahli folklore. Menurut Bascom (1965: 44 dalam Dananjaja, 1984:50), cerita prosa rakyat dapat dibagi tiga golongan besar, yaitu (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale).
Nyanyian rakyat yang menurut Jan Harold Bruvand (1963:130), dalam (Dananjaja, 1984:141) adalah salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri atas kata-kata dan lagu, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional serta banyak mempunyai varian.
Ada juga bentuk folklore yang sebagaian lisan terdiri atas dua macam, yaitu (1) kepercayaan rakyat, yang seringkali juga disebut takhyul adalah kepercayaan yang oleh orang berpindidikan barat dianggap sederhana bahkan pander, tidak berdasrkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawakan kebenarannya (Danandjaja, 1984: 153); dan (2) permainan rakyat dianggap tergolong ke dalam folklore karena memperohnya melalui warisan lisan, terutama berlaku pada permainan rakyat kanak-kanak karena permainan ini disebarkan hampir murni melalui tradisi lisan dan banyak di antaranya disebarluaskan tanpa bantuan orang dewasa, seperti orang tua mereka atau guru sekolah mereka (Danandjaja, 1984:171).
3.      Ciri Foklor
Folklor memiliki sembilan ciri pengenal utama. Ciri pengenal folklore ini dapat dijadikan pembeda folklor dari kebudayaan lainnya (Danandjaja, 1984: 3-4). Ciri pertama samapai kelima berasal dari Jan Harold Brunvand (1968:4); ciri 6 dan 7 dari Carvalho-Neto (1965: 70); dan ciri ke-8 dan ke-9 dari Danandjaja (1984: 5).
Kesembilan ciri itu sebagai berikut.
1.      Penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan yakni saat itu penyebaran folklor bisa terjadi dengan bantuan mesin cetak dan elektronik;
2.      Bersifat tradisional, disebarkan dalam bentuk relative tetap (standar);
3.      Folklor eksi dalam versi-versi bahkan dalam varian-varian yang berbeda lantaran tersebar secara lisan dari mulut ke mulut;
4.      Bersifat anonym, nama pencipatanya sudah tidak diketahui orang lagi;
5.      Folklor biasanya memiliki bentuk berumus atau berpola memiliki formula tertentu dan mamanfaatkan bentuk bahasa klise;
6.      Folklor mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif (alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendan);
7.      Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum (ciri ini berlaku baik bagi folklore lisan maupun folklore sebagaian lisan);
8.      Menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, hal ini disebabkan oleh pencipta pertama sudah tidak diketahui lagi;
9.      Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan; hal demikian itu dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folkor merupakan proyeksi emosi menusia-manusia yang paling jujur manifestasinya.
Sejalan dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai maka pembicaraan secara teoritis tenatang folkor berkisar sekitar cerita (prosa) rakyat meliputi mite, legenda, dan dongeng.
1.    Mite
Menurut Bascom (1985b: 3-20 dalam Danandjaja, 1984: 50), mite adalah cerita prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Adapun legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi manusia walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Akan tetapi, terjadinya mite adalah di dunia seperti yang kita kenal kini karena waktu terjadinya belum terlalu lampau. Sebaliknya, dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak terikat oleh waktu ataupun tempat.
Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk tipgrafi, gejala alam, dan sebgainya. Mite juga mengisahkan pertualangan para dewa, kisah percintaan mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya (Bascom, 1965b: 4-5 dalam Danandjaja, 1984: 51).
2.      Legenda
Seperti halnya dengan mite, legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal (Danandjaja, 1984:66).
Legenda sendiri dapat digolongkan ke dalam empat kelompok,, seperti dikemukakan Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja, 1984: 67), yaitu (1) legenda keagamaan (religious legends), (2) legenda alam gaib (supernatural legends), (3) legenda perseorangan (personal legends) dan (4) legenda setempat (local legends).
a.    Legenda keagamaan
Yang termasuk dalam golongan ini, antar lain, adalah legenda orang-orang suci (saint) Nasrani. Legenda demikian itu, jika telah diakui dan disahkan oleh Gereja Katolik Roma, akan menjadi bagian kesusastraan agama yang disebut hagiography, yang berarti tulisan, karangan, atau buku mengenai penghidupan orang-orang saleh. Di Jawa, legenda orang saleh adalah mengenai para wali agama islam, yakni para penyebar agama (proselytizer) Islam pada awal perkembangan agama Islam di Jawa. Para wali yang penting di Jawa adalah yang tergolong sebagai wali sanga, atau sembilan orang wali.
b.      Legenda alam gaib
Legenda semacam ini biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini terang adalah untuk meneguhkan kebenaran “takhyul” atau keprcayaan rakyat. Berhubung legenda alam gaib ini merupakan pengelaman pribadi seseorang, oleh ahli folklor Sewedia terkenal C.V. von Sydow diberi nama khusus, yaitu memorat (Bruvand, 1968:89 dalam Danandjaja, 1984: 71). Walaupun legenda itu merupakan pribadi seseorang “pengalaman” itu mengandung banyak motif cerita tradisional yang khas ada pada kolektifnya. Legenda gaib semacam ini banyak berkembang di daerah Nusantara, misalnya sundel blong di Jawa Tengah, atau juga gendrung; cerita onom di Kabupaten/Daerah Tingkat II Ciamis (tepatnya di daerah Lakbak).
c.       Legenda perseoarangan
Legenda jenis ini adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh pemilik cerita benar-benar pernah terjadi (Danandjaja, 1984:73-75). Menurutnya, di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali. Di Jawa Timur yang peling terkenal adalah legenda tokoh Panji dan di Bali legenda tokoh popular bernama Jayaprana.
d.      Legenda setempat
Yang termsuk dalam golongan ini adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk topogrofi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, yang berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya (Danandjaja, 1984: 75-83).
D.    Metode penelitian
1.      Pendekatan penelitian
Penelitian ini menerapkan metode kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1989: 3) mendefinisikan, “metode penelitian” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh.
2.      Objek penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub yang terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah.
3.      Data dan Sumber data
1.      Data
Data adalah sebuah informasi atau bahan yang disediakan atau yang harus dicari dan dikumpulkan oleh pengkaji untuk memberikan jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Imron, 2003:112). Adapun data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud informasi tentang Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub yang terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah.



2.      Sumber data
Sumber data merupakan bagian yang sangat penting bagi peneliti, karena ketepatan memilih dan menentukan jenis, sumber data akan menentukan ketepatan dan kekayaan data atau informasi yang diperoleh (Sutopo, 2002: 49).
Adapun dalam penelitian ini sumber data yang digunakan dapat berupa manusia, peristiwa dan tingkah laku, dokumen atau arsip-arsip benda lain. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer, sedangkan data sekunder belum diketemukan.
Data primer adalah data yang langsung dukumpulkan dari sumber pertama. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini penduduk asli sekitar yang berdomisili disekitar Air Terjun Sekar Langit.
4.      Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentesi, penjelasannya sebagai berikut:
1.      Teknik Observasi
Menurut Sutopo (2002: 64), observasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi dan benda serta rekaman gambar tertentu.
2.      Teknik wawancara
Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah bercakap-cakap secara tatap muka (Aminuddin, 1990: 103).
Bentuk wawancara ada beberapa macam, namun untuk penelitian folklore umumnya ada dua macam, yaitu wawancara terarah dan wawancara tidak terarah. Wawancara tidak terarah adalah wawancara yang bersifat bebas, santai, dan memberi informasi kesempatan sebesar-besarnya untuk memberikan keterangan yang ditanyakan (Danandjaja: 1991: 195).
3.      Teknik Dokumentasi
Penelitian akan lebih mudah dan bertahan lama jika diadakan perekaman, baik itu dalam bentuk foto, buku, maupun perekam suara (Badudu dalam Puspitasi, 2007). Semua itu adalah dokumen, sedangkan dokumentasi adalah kegiatan yang menyangkut dokumen. Dokumentasi yang dikumpulkan harus utuh dan mutakhir. Adapun dokumentasi dalam penelitian ini adalah wujud dokumentasi tulisan wawancara dengan warga dan foto-foto.
5.      Teknik analisis data
Milles dan Huberman (dalam Sutopo, 2002:74) menyatakan bahwa terdapat dua model pokok dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kualitatif, yaitu (1) model analisis jalinan atau mengalir dan (2) model analisis interaktif.
Dari dua model dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kulalitatif tersebut peneliti menggunakan model kedua, yaitu mdel analisis interaktif. Dalam model analisis interaktif terdiri dari empat kemampuan analisis yaiutu, reduksi data, sajian data, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.
Langkah-langkah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut.
1. Pengumpulan data, yaitu pengumpulan data di lokasi studi dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan mencatat dokumen menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikut (Sutopo, 1996:89).
2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi pemfokusan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang ada dalam lapangan langsung dan diteruskan pada pengumpulan data (Sutopo, 1996:87).
3. Sajian data yaitu, suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dilakukan.
4. Penarikan kesimpulan, sejak awal pengumpulan data peneliti harus mengamati dan tanggap terhadap hal-hal yang ditemui dilapangan (dengan meyusun pola-pola asahan dan sebab akibat (Sutopo, 1996: 87).
Dalam penelitian ini, yang pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilkukan dengan pengamatan langsung mengenai tempat dan lokasi cerita rakyat Jaka Tarub dan dilanjutkan dengan penarikan informasi secara mendalam dan langsung dari masyarakat yang menjadi narasumber dalam penelitian ini. Pengumpulan data dari hasil wawancara dalam wujud dokumentasi, adapun dokumentasi dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan masyarakat sekitar lokasi Air Terjun Sekar Langit serta berupa foto dari lokasi air terjun.
E.     Hasil dan Analisis
1.      Deskripsi Wilayah
Air terjun Sekar Langit terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah, yang berjarak sekitar 61 km dan dapat ditempuh dengan sepeda motor atau mobil selama 2 sampai 2,5 jam dari kota Yogyakarta.
Air Terjun Sekar Langit
Description: Description: G:\UTS\Screenshot_1.jpg        Description: Description: G:\UTS\Screenshot_2.jpg 
Gambar 1. Plang Menuju Air Terjun Sekar Langit   Gambar 2. Sebelum Memasuki Wisata
 Description: Description: G:\UTS\Screenshot_3.jpg  Description: Description: G:\UTS\Screenshot_4.jpg
Gambar 3. Gerbang utama                                                             Gambar 4. Ticketing
Description: Description: G:\UTS\Screenshot_6.jpg
Gambar 5. Peta Desa Tlogorejo
Penamaan air terjun sekar langit berasal dari dua kata yaitu, Sekar yang berarti bunga dan langit artinya diatas. Jika digabung, Sekar langit  itu berarti keindahan yang berasal dari atas (langit) dalam hal ini yang berasal dari atas itu adalah bidadari. Seperti yang diketahui oleh hampir semua kalangan tempat tinggal bidadari itu berasal dari kayangan, sedangkan Kayangan itu berada dilangit.
Jika kita mencari tentang asal-usul Air terjun Sekar langit di media sosial atau di website yang kita temukan adalah legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari yang kemudian memperistri bidadari tersebut. Bidadari tersebut tidak dapat kembali ke kayangan karena tidak mempunyai selendang untuk terbang dan akhirnya menikah dengan Jaka Tarub dan membina rumah tangga layaknya manusia biasa dan dikarunia seorang anak. Namun seiring berjalannya waktu, Bidadari tersebut mengetahui kebenaran jika yang mencuri selendangnya adalah suaminya sendiri yaitu Jaka Tarub. Ia pun meninggalkan suami dan anaknya Nawangsari karena kecewa kepada suaminya.
Hal pertama yang peneliti lakukan adalah mencari infomasi dari beberapa warga sekitar sepanjang jalan, namun peniliti sendiri menemukan kendala yang sangat sulit untuk dipecahkan karena peniliti tidak berasal dari Jawa makanya sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui bahasa daerah yang digunakan oleh warga sekitar. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menggali informasi yang lebih banyak guna melanjutkannya. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari informasi dari penjaga objek wisata, dari informasi yang diperolah informan memberikan bantuan yang sangat berarti untuk melanjutkan penelitian karena memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dengan memberi nama-nama yang dianggap mengetahui banyak hal tentang cerita atau legenda yang ada air terjun Sekar Langit.
Gambar 6. Kadus Tlogorejo
 
Yang dijadikan informan oleh peneliti dalam hal ini adalah Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun Tlogorejo) bersedia dihubungi kembali jika masih ada yang ingin diketahui lebih lanjut serta bersedia meluangkan waktunnya untuk memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti (hasil wawancara peneliti dengan narasumber akan dilampirkan) dari hasil wawancara tersebut peneliti memeroleh informasi sebagai berikut:

2.      Hasil Penelitian
Air terjun sekar langit mulai dibuka untuk umum atau dijadikan objek wisata pada Tahun 1970an, sebelum itu tempat tersebut masih menjadi tempat untuk warga sekitar untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan sebagainya atau belum dikomersilkan dan belum dikenal oleh masyarakat umum maupun masyarakat luas. Dari segi penamaan, Air terjun Sekar langit telah ada, Sekar langit itu sendiri merupakan istilah. Warga sekitar atau orang tua dahulu menamakan Sekar langit berasal dari kata Sekar yang berarti bunga sedangkan langit berarti sesuatu yang diatas. Jika digabung Sekar langit berarti sesuatu yang indah dan berasal dari atas karena terletak diatas pegunungan atau keindahan/kecantikan yang berasal dari atas (langit).
Legenda Jaka Tarub itu sebenarnya tidak ada menurut para tetua atau leluhur yang ada di sekitar air terjun tersebut melainkan dari media sosial atau internet. Ada kemungkinan yang menulis di internet atau blog hanya mengaitkan penampakan-penampakan yang ada di Sekar langit dengan sesuatu perwujudan yang ada dalam Legenda Jaka Tarub. Hal-hal gaib yang sering muncul adalah Angsa Emas yang sering muncul di sekitar air terjun (beberapa tahun terakhir, fenomena tersebut tidak pernah muncul atau terlihat lagi). Beberapa penulis yang hanya mengaitkan hal tersebut sehingga menarik kesimpulan semacam itu. Angsa emas itu di ibaratkan sebagai Nawang Wulan (istri Jaka Tarub) yang ingin bertemu anaknya di bumi yaitu Nawangsari harus berubah wujud menjadi angsa. Dia hanya ke bumi jika rindu atau ingin berkunjung menemui anaknya dan tidak ingin bertemu lagi dengan suaminya karena kecewa. Nawangsari sendiri tidak bisa ikut ibunya ke kayangan karena dia tidak murni bidadari melainkan campuran antara manusia dan bidadari.
Lebih lanjut dan meluruskan beberapa hal menurut sumber, legenda Jaka Tarub itu berada di Purwodadi bukan di Tlogorejo (Air terjun Sekar langit). Menurut keterangan yang peneliti peroleh, beberapa waktu sebelumnya juga beliau didatangi oleh rombongan diknas budaya dan parawisata Yogyakarta terkait maraknya di situs internet tentang legenda Jaka Tarub di kawasan wisata tersebut. Kepercayaan-kepercayaan yang di anut atau dipercaya oleh sebagian orang jika berkujung atau mandi di Air terjun Sekar langit diantaranya, Awet  muda, menambah aura kecantikan, mempermudah jodoh, membesarkan payudara (khusus untuk perempuan). Namun semua itu kembali berdasakan keyakinan dari individu masing-masing untuk percaya atau tidak.
  Air terjun ini juga dipercaya dan diyakini oleh sebagian orang berkhasiat untuk kesehatan jika berendam dibawah pancuran air terjun serta membersihkan diri dari berbagai penyakit. Beberapa pengunjug yang sempat peneliti temui di lokasi juga meyakini  jika mandi bersama pasangan di bawah pancuran air terjun yang mengalir langsung dari puncak air terjun akan berjodoh dengan kekasihnya serta tidak akan ada pertengkaran selama pacaran dan akan langgeng hingga membina rumah tangga kelak. Jadi, jangan heran jika berkunjung ketempat ini melihat pemandangan yang dipenuhi oleh pasangan dan kebanyakan dari kaum wanita, baik sekadar menikmati pemandangan alam yang memang sangat indah, sejuk dan masih alami serta untuk mandi dan berendam dibawah pancuran air terjun tersebut sambil bercengkerama dengan teman atau pengunjung yang lainnya.
Pantangan yang sangat disarankan dari informan jika mengunjungi kawasan ini adalah jangan berpikiran kosong ketika memasuki tempat ini disebabkan masih banyak atau seringnya muncul penampakan disepanjang jalan menuju air terjun. Hal gaib yang sering menampakkan ditempat ini adalah Angsa emas, Wewe dan Kuntilanak. Sekitar 400 meter dari areal parkir menuju air terjun, terdapat sebuah batu yang menyerupai tudung yang sering digunakan oleh para pengunjung untuk menaruh sesajen ditempat tersebut (bukan warga setempat). Penyimpanan sesajen itu berupa susunan batu dan terletak diseblah kanan jalan memasuki kawasan air terjun, adapun sesajen yang biasanya diletakkan ditempat tersebut adalah Ingkung (ayam utuh yang telah dimasak atau digoreng namun tetap utuh, dan harus ayam asli Jawa dan ayam jago), hasil bumi (buah-buahan dan makanan pokok) serta rokok. Sesajen tersebut diletakkan disana dan berharap mendapatkan pengasihan atau kesehatan, namun semua itu bergantung dan kembali kepada keyakinan masing-masing untuk percaya hal tersebut atau tidak lanjut informan.

F.     Kesimpulan
Berdasar dari hasil penelitian yang telah saya lakukan, legenda Jaka tarub yang dikaitkan dengan Air Terjun Sekar Langit sangat bermanfaat untuk masyarakat yang ada disekitar lokasi permandian alam tersebut, dari segi ekonomi misalkan. Dengan ramainya pengunjung yang datang dari daerah lain memberikan penghasilan tambahan bagi mereka yang berjualan disekitar lokasi wisata tersebut sehingga lokasi wisata tersebut masih sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
Sedangkan untuk bidang kebudayaan dan dinas terkait sendiri peneliti sangat mengharapkan adanya bantuan atau kerjasama dengan melakukan perbaikan sarana dan prasana yang ada dilokasi tersebut serta lebih memperhatikan akses ke lokasi wisata.   Objek wisata ini termasuk salah satu objek wisata yang sangat indah jika dibandingkan dengan objek wisata lainnya yang ada di Jawa pada umumnya dan Kabupaten Magelang pada khususnya sebab objek wisata ini memiliki keunikan khusus dengan adanya beberapa acara atau ritual tertentu yang masih sering dilakukan oleh warga pendatang di area air terjun tersebut serta masih kentalnya kepercayaan orang sekitar akan khasiat atau manfaat jika berendam di air terjun tersebut.
Adapun cara atau metoode yang harus dilakukan untuk pelestarian objek wisata Air Terjun Sekar Langit adalah dengan cara mempublikasikan dan memperkenalkan objek wisata tersebut melalui media yang ada di Yogyakarta pada khususnya dan media nasional pada umunya agar lebih dikenal oleh warga luar sehingga menarik minat untuk mengunjungi tempat tersebut. Kerja keras dari dinas kebudayaan dan dinas terkait akan menghasilkan keuntungan dan pemasukan untuk daerah dan warga sekitar jika objek wisata tersebut telah dikenal oleh masyarakat luar.

Daftar Pustaka

Aminuddin, 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Asah Asih Asuh.
Danandjaja. 1991. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafiti.
Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran: Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Bhineka Cipta.
Moleong, Lexy. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.
Sutopo. H.B. 1996. Penelitian Kualitatif. Surakarta. Sebelas Maret University Press.
___________. 2002. Penelitian Kualitatif. __________. Sebelas Maret University Press.
Wildan, dkk. 1980. Stuktur Sastra Lisan Tamiang. Jakarta: Pusat Bahasa.

Wawancara:
1.      Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun Tlogorejo)
ll
LLampiran
Air Terjun Sekar Langit
A.     Latar Belakang
Cerita rakyat, salah satu kategori dalam folklor, menjadi bagian dari fenomena budaya tiap bangsa yang kebertahanannya terus dibuktikan melalui kehadirannya melintasi peradaban jaman terbaru. Transformasi di dalamnya pun menjadi wujud nyata bahwa cerita rakyat menempati fungsinya secara nyata. Namun demikian, adakalanya anggota kolektif cerita rakyat tertentu merasa bahwa cerita yang diwariskan oleh nenek moyangnya dan ditumbuhkembangkan ke generasi yang lebih muda merupakan cerita milik bangsanya. Di sisi lain, masyarakat tertentu terus menelusuri asal-usul cerita yang dirasakan sudah menjadi miliknya namun kenyataan lain menunjukkan bahwa di wilayah lain yang dipisahkan oleh lautan luas dan benua, cerita yang nyaris serupa tumbuh dan berkembang pula dengan pengakuan kepemilikannya.
Kebudayaan pada hakikatnya merupakan wujud dari upaya manusia dalam menanggapi lingkungan secara aktif. Kemampuan manusia dalam menanggapi lingkungannya secara aktif dimungkinkan karena adanya kemampuan dan kebersihan manusia dalam menggunakan lambang-lambang yang diberi makna dan arti secara sistematis, sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi secara efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan bersifat dinamis, dimana kebudayaan akan berkembang selama masyarakat pendukungnya masih ada dalam mengembangkan kebudayaan.
Berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia menimbulkan suku bangsa yang memiliki keanekaragaman budaya yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Dari keanekaragaman tersebut melahirkan suatu kehidupan sastra yang unik. Dari sinilah timbul bahwa pengkajian terhadap sastra merupakan kajian yang cukup menarik. Dengan memperhatikan segi media yang digunakan, sastra yang tersebar menggunakan media lisan yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata, itulah sebabnya ada yang menyebutkan sebagai tradisi lisan (oral tradition).
Hal tersebut di atas menyiratkan bahwa kebudayaan sebagai hasil kreatifitas manusia, hasil aktifitasnya maupun hasil karya manusia, di dalamnya terkandung juga nilai-nilai atau ide dari manusia. Segala gagasan dan angan angan, keinginan atau pun cita-cita manusia terefleksi ke dalam hasil karya mereka yang disebut dengan kebudayaan. Nilai-nilai atau ide yang terdapat di dalam suatu kebudayaan, terbentuk secara sangat manusiawi dan pribadi sifatnya. Oleh karena itu, setiap benda budaya menandai nilai tertentu, menunjukkan maksud serta gagasan penciptanya.
Kebudayaan yang sangat kompleks tersebut terkandung unsur-unsur universal yang ada di dunia ini. Unsur-unsur kebudayaan tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan yang disebut sebagai isi pokok dari kebudayaan di dunia. Unsur-unsur kebudayaan yang universal tersebut selanjutnya diambil menjadi tujuh unsur kebudayaan yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap kebudayaan di dunia (Koentjaraningrat, 1990: 203) yakni bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, kesenian. Di antara sekian banyak bagian kebudayaan tersebut merupakan bagian dari folklor.
Folklor sebagai bagian dari kebudayaan seperti bagian kebudayaan yang lainnya, di dalamya juga terkandung nilai-nilai budaya serta gagasan-gagasan masyarakat. Lewat folklor dapat dipelajari segala aspek kehidupan masyarakat segala keinginan mereka yang terefleksikan secara implisit maupun eksplisit di dalam suatu folklor.
Folklor sebagai suatu disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di Indonesia belum lama dikembangkan orang (Danandjaja, 1991: 1). Folklor dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu: folklor lisan, folklor sebagaian lisan, dan folklor bukan lisan (Brunvand, dalam Danandjaya, 1991: 21 ). Adapun folklor lisan juga masih dibagi dalam beberapa kelompok, di antaranya adalah cerita prosa rakyat. Sebagai sebuah jenis sastra yang hidup dalam tradisi lisan, cerita prosa rakyat tiada terunut lagi akan siapa nama pengarangnya (anonim). Hal ini menjadi salah satu dari ciri-ciri pengenal folklor. Yang ada hanya bahwa cerita prosa rakyat lahir dari suatu masyarakat tradisional yang masih memegang teguh tradisi lisannya. Cerita tersebut berkembang, menjadi besar, dan menghilang di dalam masyarakat pemiliknya. Hubungan di antara ke duanya, cerita rakyat dan pemiliknya, bukan merupakan sesuatu yang dicari-cari atau hanya mengada-ada saja, sebab, sudah jelas bahwa cerita prosa rakyat itu menampilkan gambaran kehidupan sebagai produk sosialnya.
Salah satu bentuk cerita rakyat yang menarik untuk diteliti adalah cerita rakyat yang berkenaan dengan asal-usul penamaan suatu tempat. Cerita rakyat tersebut apabila dikelompokkan, termasuk pada genre cerita rakyat legenda setempat (local legends). Penamaan suatu tempat tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan dengan berbagai hal yang pada intinya menyangkut kebudayaan suatu masyarakat.
Dengan demikian, agar dapat menemukenali karakter cerita rakyat, tulisan ini akan memusatkan perhatian pada cerita rakyat sebagai gejala kelisanan. Selain itu, perspektif kelisanan yang dipakai untuk mengkaji cerita rakyat dalam tulisan ini juga dapat dipandang sebagai tanggapan (reaksi) terhadap kecenderungan logocentrism dalam kehidupan akademis masa kini, yang tanpa disadari meminggirkan atau mengabaikan kenyataan kelisanan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pada titik ekstrim, kecenderungan logocentrism yang berlebihan dalam dunia ilmu pengetahuan akan memunculkan jurang keterpisahan.
Cerita rakyat tidak sekedar hidup dan tersebar dalam masayarakat, namun juga memiliki arti penting dan fungsi-fungsi tertentu bagi kolektif pemiliknya. Pengkajian terhadap cerita rakyat bisa dijadikan sarana yang tepat untuk penamaan nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat yang sekarang ini sudah banyak dilupakan, selain untuk perkembangan sastra lisan itu sendiri. Usaha untuk menggali, memperkenalkan, menghidupi dan mengembangkan budaya tradisional yang bernilai positif itu sangat perlu dan tidak hanya untuk tradisi itu sendiri, tetapi lebih luas juga berguna dalam menunjang pembangunan nasional. Objek penelitian sastra lisan yang saya pilih adalah Legenda Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan Jaka Tarub di berbagai tulisan-tulisan yang sangat mudah ditemukan melalui internet. Dalam hal ini, peneliti mencari data dan informan, salah satu cara untuk mengetahui hal tersebut adalah dengan cara terjun langsung kedalam masyarakat yang berada disekitar Air Terjun Sekar Langit tersebut dan mencari sumber yang dapat dijadikan informan.
B.     Manfaat Penelitian
Bagi penulis, penelitian ini dapat menambah khazanah keilmuan terutama dalam bidang sastra lisan, dan dapat mempelajari kebudayaan yang belum terungkap sebelumnyasedangkan untuk peneliti selanjutnya diharapkan bisa menjadi referensi dan dijadikan acuan bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih banyak tentang mitos atau legenda yang ada Air Terjun Sekar Langit.


C.    Landasan teori
1.      Hakikat Folklor
Secara etimologis kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, kata dasarnya folk dan lore (Danandjaja, 1984:1). Folk menurut Alan Dundes adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu, antara lain, dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, dll.
Dananjaja menyimpulkan bahwa folk adalah sinonim dengan klektif yang juga memilik ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat, dan yang dimaksud lor adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau pembantu pengingat.
Foklor menurut Dananjaja, tidak lain adalah sebagian kebudayaan suatu kolektof yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisoanal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Danandjaja, 1984:2).
2.      Bentuk folklor
Folklor jika diperhatikan dari segi bentuknya, ternyata ada dua, yaitu bentuk lisan dan sebagian lisan (Danandjaja, 1984: Bab III).
Bentuk folklor lisan antar lain:
1.      Bahasa rakyat, yakni bentuk folklore Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat, adalah logat atau dialek bahasa-bahasa Nusantara.
2.      Ungkapan tradisonal yakni yang termasuk dalam bentu folklore semacam ini adalah peribahasa (peribahasa yang sesungguhnya, peribahasa tidak lengap kalimatnya, peribahasa perumpamaan) dan ungkapan (ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa).
Pertanyaan tradisoanal yakni yang lebih dikenal sebagai teka-teki merupakan pertanyaan yang bersifat tradisonal dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Sajak dan puisi rakyat yakni follor lisan yang memiliki kekhususan, kalimatnya tidak berbentuk bebas, tapi terikat. Sajak dan puisi rakyat merupakan kesusastraan yang sudah tertentu betuknya, baik dari segi jumlah larik maupun persajakan yang mengekhiri setiap lariknya. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah parikan, rarakitan, wawangian, dll.
Cerita prosa rakyat, yakni jenis folklore yang paling benyak diteliti oleh para peniliti/ ahli folklore. Menurut Bascom (1965: 44 dalam Dananjaja, 1984:50), cerita prosa rakyat dapat dibagi tiga golongan besar, yaitu (1) mite (myth), (2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale).
Nyanyian rakyat yang menurut Jan Harold Bruvand (1963:130), dalam (Dananjaja, 1984:141) adalah salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri atas kata-kata dan lagu, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk tradisional serta banyak mempunyai varian.
Ada juga bentuk folklore yang sebagaian lisan terdiri atas dua macam, yaitu (1) kepercayaan rakyat, yang seringkali juga disebut takhyul adalah kepercayaan yang oleh orang berpindidikan barat dianggap sederhana bahkan pander, tidak berdasrkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawakan kebenarannya (Danandjaja, 1984: 153); dan (2) permainan rakyat dianggap tergolong ke dalam folklore karena memperohnya melalui warisan lisan, terutama berlaku pada permainan rakyat kanak-kanak karena permainan ini disebarkan hampir murni melalui tradisi lisan dan banyak di antaranya disebarluaskan tanpa bantuan orang dewasa, seperti orang tua mereka atau guru sekolah mereka (Danandjaja, 1984:171).
3.      Ciri Foklor
Folklor memiliki sembilan ciri pengenal utama. Ciri pengenal folklore ini dapat dijadikan pembeda folklor dari kebudayaan lainnya (Danandjaja, 1984: 3-4). Ciri pertama samapai kelima berasal dari Jan Harold Brunvand (1968:4); ciri 6 dan 7 dari Carvalho-Neto (1965: 70); dan ciri ke-8 dan ke-9 dari Danandjaja (1984: 5).
Kesembilan ciri itu sebagai berikut.
1.      Penyebaran dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan yakni saat itu penyebaran folklor bisa terjadi dengan bantuan mesin cetak dan elektronik;
2.      Bersifat tradisional, disebarkan dalam bentuk relative tetap (standar);
3.      Folklor eksi dalam versi-versi bahkan dalam varian-varian yang berbeda lantaran tersebar secara lisan dari mulut ke mulut;
4.      Bersifat anonym, nama pencipatanya sudah tidak diketahui orang lagi;
5.      Folklor biasanya memiliki bentuk berumus atau berpola memiliki formula tertentu dan mamanfaatkan bentuk bahasa klise;
6.      Folklor mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif (alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendan);
7.      Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum (ciri ini berlaku baik bagi folklore lisan maupun folklore sebagaian lisan);
8.      Menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, hal ini disebabkan oleh pencipta pertama sudah tidak diketahui lagi;
9.      Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan; hal demikian itu dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folkor merupakan proyeksi emosi menusia-manusia yang paling jujur manifestasinya.
Sejalan dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai maka pembicaraan secara teoritis tenatang folkor berkisar sekitar cerita (prosa) rakyat meliputi mite, legenda, dan dongeng.
1.    Mite
Menurut Bascom (1985b: 3-20 dalam Danandjaja, 1984: 50), mite adalah cerita prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Adapun legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi manusia walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Akan tetapi, terjadinya mite adalah di dunia seperti yang kita kenal kini karena waktu terjadinya belum terlalu lampau. Sebaliknya, dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak terikat oleh waktu ataupun tempat.
Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk tipgrafi, gejala alam, dan sebgainya. Mite juga mengisahkan pertualangan para dewa, kisah percintaan mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya (Bascom, 1965b: 4-5 dalam Danandjaja, 1984: 51).
2.      Legenda
Seperti halnya dengan mite, legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal (Danandjaja, 1984:66).
Legenda sendiri dapat digolongkan ke dalam empat kelompok,, seperti dikemukakan Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja, 1984: 67), yaitu (1) legenda keagamaan (religious legends), (2) legenda alam gaib (supernatural legends), (3) legenda perseorangan (personal legends) dan (4) legenda setempat (local legends).
a.    Legenda keagamaan
Yang termasuk dalam golongan ini, antar lain, adalah legenda orang-orang suci (saint) Nasrani. Legenda demikian itu, jika telah diakui dan disahkan oleh Gereja Katolik Roma, akan menjadi bagian kesusastraan agama yang disebut hagiography, yang berarti tulisan, karangan, atau buku mengenai penghidupan orang-orang saleh. Di Jawa, legenda orang saleh adalah mengenai para wali agama islam, yakni para penyebar agama (proselytizer) Islam pada awal perkembangan agama Islam di Jawa. Para wali yang penting di Jawa adalah yang tergolong sebagai wali sanga, atau sembilan orang wali.
b.      Legenda alam gaib
Legenda semacam ini biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini terang adalah untuk meneguhkan kebenaran “takhyul” atau keprcayaan rakyat. Berhubung legenda alam gaib ini merupakan pengelaman pribadi seseorang, oleh ahli folklor Sewedia terkenal C.V. von Sydow diberi nama khusus, yaitu memorat (Bruvand, 1968:89 dalam Danandjaja, 1984: 71). Walaupun legenda itu merupakan pribadi seseorang “pengalaman” itu mengandung banyak motif cerita tradisional yang khas ada pada kolektifnya. Legenda gaib semacam ini banyak berkembang di daerah Nusantara, misalnya sundel blong di Jawa Tengah, atau juga gendrung; cerita onom di Kabupaten/Daerah Tingkat II Ciamis (tepatnya di daerah Lakbak).
c.       Legenda perseoarangan
Legenda jenis ini adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh pemilik cerita benar-benar pernah terjadi (Danandjaja, 1984:73-75). Menurutnya, di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali. Di Jawa Timur yang peling terkenal adalah legenda tokoh Panji dan di Bali legenda tokoh popular bernama Jayaprana.
d.      Legenda setempat
Yang termsuk dalam golongan ini adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat dan bentuk topogrofi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, yang berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya (Danandjaja, 1984: 75-83).
D.    Metode penelitian
1.      Pendekatan penelitian
Penelitian ini menerapkan metode kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1989: 3) mendefinisikan, “metode penelitian” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh.
2.      Objek penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub yang terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah.
3.      Data dan Sumber data
1.      Data
Data adalah sebuah informasi atau bahan yang disediakan atau yang harus dicari dan dikumpulkan oleh pengkaji untuk memberikan jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Imron, 2003:112). Adapun data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud informasi tentang Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub yang terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah.



2.      Sumber data
Sumber data merupakan bagian yang sangat penting bagi peneliti, karena ketepatan memilih dan menentukan jenis, sumber data akan menentukan ketepatan dan kekayaan data atau informasi yang diperoleh (Sutopo, 2002: 49).
Adapun dalam penelitian ini sumber data yang digunakan dapat berupa manusia, peristiwa dan tingkah laku, dokumen atau arsip-arsip benda lain. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer, sedangkan data sekunder belum diketemukan.
Data primer adalah data yang langsung dukumpulkan dari sumber pertama. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini penduduk asli sekitar yang berdomisili disekitar Air Terjun Sekar Langit.
4.      Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentesi, penjelasannya sebagai berikut:
1.      Teknik Observasi
Menurut Sutopo (2002: 64), observasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi dan benda serta rekaman gambar tertentu.
2.      Teknik wawancara
Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah bercakap-cakap secara tatap muka (Aminuddin, 1990: 103).
Bentuk wawancara ada beberapa macam, namun untuk penelitian folklore umumnya ada dua macam, yaitu wawancara terarah dan wawancara tidak terarah. Wawancara tidak terarah adalah wawancara yang bersifat bebas, santai, dan memberi informasi kesempatan sebesar-besarnya untuk memberikan keterangan yang ditanyakan (Danandjaja: 1991: 195).
3.      Teknik Dokumentasi
Penelitian akan lebih mudah dan bertahan lama jika diadakan perekaman, baik itu dalam bentuk foto, buku, maupun perekam suara (Badudu dalam Puspitasi, 2007). Semua itu adalah dokumen, sedangkan dokumentasi adalah kegiatan yang menyangkut dokumen. Dokumentasi yang dikumpulkan harus utuh dan mutakhir. Adapun dokumentasi dalam penelitian ini adalah wujud dokumentasi tulisan wawancara dengan warga dan foto-foto.
5.      Teknik analisis data
Milles dan Huberman (dalam Sutopo, 2002:74) menyatakan bahwa terdapat dua model pokok dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kualitatif, yaitu (1) model analisis jalinan atau mengalir dan (2) model analisis interaktif.
Dari dua model dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kulalitatif tersebut peneliti menggunakan model kedua, yaitu mdel analisis interaktif. Dalam model analisis interaktif terdiri dari empat kemampuan analisis yaiutu, reduksi data, sajian data, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan, aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai proses siklus.
Langkah-langkah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut.
1. Pengumpulan data, yaitu pengumpulan data di lokasi studi dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan mencatat dokumen menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikut (Sutopo, 1996:89).
2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi pemfokusan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang ada dalam lapangan langsung dan diteruskan pada pengumpulan data (Sutopo, 1996:87).
3. Sajian data yaitu, suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan kesimpulan penelitian dilakukan.
4. Penarikan kesimpulan, sejak awal pengumpulan data peneliti harus mengamati dan tanggap terhadap hal-hal yang ditemui dilapangan (dengan meyusun pola-pola asahan dan sebab akibat (Sutopo, 1996: 87).
Dalam penelitian ini, yang pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilkukan dengan pengamatan langsung mengenai tempat dan lokasi cerita rakyat Jaka Tarub dan dilanjutkan dengan penarikan informasi secara mendalam dan langsung dari masyarakat yang menjadi narasumber dalam penelitian ini. Pengumpulan data dari hasil wawancara dalam wujud dokumentasi, adapun dokumentasi dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan masyarakat sekitar lokasi Air Terjun Sekar Langit serta berupa foto dari lokasi air terjun.
E.     Hasil dan Analisis
1.      Deskripsi Wilayah
Air terjun Sekar Langit terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah, yang berjarak sekitar 61 km dan dapat ditempuh dengan sepeda motor atau mobil selama 2 sampai 2,5 jam dari kota Yogyakarta.
Air Terjun Sekar Langit
Description: Description: G:\UTS\Screenshot_1.jpg        Description: Description: G:\UTS\Screenshot_2.jpg 
Gambar 1. Plang Menuju Air Terjun Sekar Langit   Gambar 2. Sebelum Memasuki Wisata
 Description: Description: G:\UTS\Screenshot_3.jpg  Description: Description: G:\UTS\Screenshot_4.jpg
Gambar 3. Gerbang utama                                                             Gambar 4. Ticketing
Description: Description: G:\UTS\Screenshot_6.jpg
Gambar 5. Peta Desa Tlogorejo
Penamaan air terjun sekar langit berasal dari dua kata yaitu, Sekar yang berarti bunga dan langit artinya diatas. Jika digabung, Sekar langit  itu berarti keindahan yang berasal dari atas (langit) dalam hal ini yang berasal dari atas itu adalah bidadari. Seperti yang diketahui oleh hampir semua kalangan tempat tinggal bidadari itu berasal dari kayangan, sedangkan Kayangan itu berada dilangit.
Jika kita mencari tentang asal-usul Air terjun Sekar langit di media sosial atau di website yang kita temukan adalah legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari yang kemudian memperistri bidadari tersebut. Bidadari tersebut tidak dapat kembali ke kayangan karena tidak mempunyai selendang untuk terbang dan akhirnya menikah dengan Jaka Tarub dan membina rumah tangga layaknya manusia biasa dan dikarunia seorang anak. Namun seiring berjalannya waktu, Bidadari tersebut mengetahui kebenaran jika yang mencuri selendangnya adalah suaminya sendiri yaitu Jaka Tarub. Ia pun meninggalkan suami dan anaknya Nawangsari karena kecewa kepada suaminya.
Hal pertama yang peneliti lakukan adalah mencari infomasi dari beberapa warga sekitar sepanjang jalan, namun peniliti sendiri menemukan kendala yang sangat sulit untuk dipecahkan karena peniliti tidak berasal dari Jawa makanya sangat tidak memungkinkan untuk mengetahui bahasa daerah yang digunakan oleh warga sekitar. Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menggali informasi yang lebih banyak guna melanjutkannya. Hal pertama yang dilakukan adalah mencari informasi dari penjaga objek wisata, dari informasi yang diperolah informan memberikan bantuan yang sangat berarti untuk melanjutkan penelitian karena memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dengan memberi nama-nama yang dianggap mengetahui banyak hal tentang cerita atau legenda yang ada air terjun Sekar Langit.
Description: G:\UTS\Screenshot_5.jpg
Gambar 6. Kadus Tlogorejo
 
Yang dijadikan informan oleh peneliti dalam hal ini adalah Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun Tlogorejo) bersedia dihubungi kembali jika masih ada yang ingin diketahui lebih lanjut serta bersedia meluangkan waktunnya untuk memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti (hasil wawancara peneliti dengan narasumber akan dilampirkan) dari hasil wawancara tersebut peneliti memeroleh informasi sebagai berikut:

2.      Hasil Penelitian
Air terjun sekar langit mulai dibuka untuk umum atau dijadikan objek wisata pada Tahun 1970an, sebelum itu tempat tersebut masih menjadi tempat untuk warga sekitar untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan sebagainya atau belum dikomersilkan dan belum dikenal oleh masyarakat umum maupun masyarakat luas. Dari segi penamaan, Air terjun Sekar langit telah ada, Sekar langit itu sendiri merupakan istilah. Warga sekitar atau orang tua dahulu menamakan Sekar langit berasal dari kata Sekar yang berarti bunga sedangkan langit berarti sesuatu yang diatas. Jika digabung Sekar langit berarti sesuatu yang indah dan berasal dari atas karena terletak diatas pegunungan atau keindahan/kecantikan yang berasal dari atas (langit).
Legenda Jaka Tarub itu sebenarnya tidak ada menurut para tetua atau leluhur yang ada di sekitar air terjun tersebut melainkan dari media sosial atau internet. Ada kemungkinan yang menulis di internet atau blog hanya mengaitkan penampakan-penampakan yang ada di Sekar langit dengan sesuatu perwujudan yang ada dalam Legenda Jaka Tarub. Hal-hal gaib yang sering muncul adalah Angsa Emas yang sering muncul di sekitar air terjun (beberapa tahun terakhir, fenomena tersebut tidak pernah muncul atau terlihat lagi). Beberapa penulis yang hanya mengaitkan hal tersebut sehingga menarik kesimpulan semacam itu. Angsa emas itu di ibaratkan sebagai Nawang Wulan (istri Jaka Tarub) yang ingin bertemu anaknya di bumi yaitu Nawangsari harus berubah wujud menjadi angsa. Dia hanya ke bumi jika rindu atau ingin berkunjung menemui anaknya dan tidak ingin bertemu lagi dengan suaminya karena kecewa. Nawangsari sendiri tidak bisa ikut ibunya ke kayangan karena dia tidak murni bidadari melainkan campuran antara manusia dan bidadari.
Lebih lanjut dan meluruskan beberapa hal menurut sumber, legenda Jaka Tarub itu berada di Purwodadi bukan di Tlogorejo (Air terjun Sekar langit). Menurut keterangan yang peneliti peroleh, beberapa waktu sebelumnya juga beliau didatangi oleh rombongan diknas budaya dan parawisata Yogyakarta terkait maraknya di situs internet tentang legenda Jaka Tarub di kawasan wisata tersebut. Kepercayaan-kepercayaan yang di anut atau dipercaya oleh sebagian orang jika berkujung atau mandi di Air terjun Sekar langit diantaranya, Awet  muda, menambah aura kecantikan, mempermudah jodoh, membesarkan payudara (khusus untuk perempuan). Namun semua itu kembali berdasakan keyakinan dari individu masing-masing untuk percaya atau tidak.
Description: Description: G:\UTS\Screenshot_7.jpg   Description: Description: G:\UTS\Screenshot_8.jpg
Gambar 7. Air Terjun Sekar langit                      Gambar 8. Suasana air terjun
Description: Description: G:\UTS\Screenshot_9.jpg  Description: Description: G:\UTS\Screenshot_10.jpg
Gambar 9. Suasana Air terjun 2                    Gambar 10. Pasangan muda-mudi
Air terjun ini juga dipercaya dan diyakini oleh sebagian orang berkhasiat untuk kesehatan jika berendam dibawah pancuran air terjun serta membersihkan diri dari berbagai penyakit. Beberapa pengunjug yang sempat peneliti temui di lokasi juga meyakini  jika mandi bersama pasangan di bawah pancuran air terjun yang mengalir langsung dari puncak air terjun akan berjodoh dengan kekasihnya serta tidak akan ada pertengkaran selama pacaran dan akan langgeng hingga membina rumah tangga kelak. Jadi, jangan heran jika berkunjung ketempat ini melihat pemandangan yang dipenuhi oleh pasangan dan kebanyakan dari kaum wanita, baik sekadar menikmati pemandangan alam yang memang sangat indah, sejuk dan masih alami serta untuk mandi dan berendam dibawah pancuran air terjun tersebut sambil bercengkerama dengan teman atau pengunjung yang lainnya.
Pantangan yang sangat disarankan dari informan jika mengunjungi kawasan ini adalah jangan berpikiran kosong ketika memasuki tempat ini disebabkan masih banyak atau seringnya muncul penampakan disepanjang jalan menuju air terjun. Hal gaib yang sering menampakkan ditempat ini adalah Angsa emas, Wewe dan Kuntilanak. Sekitar 400 meter dari areal parkir menuju air terjun, terdapat sebuah batu yang menyerupai tudung yang sering digunakan oleh para pengunjung untuk menaruh sesajen ditempat tersebut (bukan warga setempat). Penyimpanan sesajen itu berupa susunan batu dan terletak diseblah kanan jalan memasuki kawasan air terjun, adapun sesajen yang biasanya diletakkan ditempat tersebut adalah Ingkung (ayam utuh yang telah dimasak atau digoreng namun tetap utuh, dan harus ayam asli Jawa dan ayam jago), hasil bumi (buah-buahan dan makanan pokok) serta rokok. Sesajen tersebut diletakkan disana dan berharap mendapatkan pengasihan atau kesehatan, namun semua itu bergantung dan kembali kepada keyakinan masing-masing untuk percaya hal tersebut atau tidak lanjut informan.
Description: Description: G:\UTS\Penempatan Sesajen 1.jpg    Description: Description: G:\UTS\Penempatan Sesajen 2.jpg
Gambar 11. Tempat sesajen 1                                  Gambar 12. Tempat sesajen 2

Description: Description: G:\UTS\Screenshot_11.jpg          Description: Description: G:\UTS\Screenshot_12.jpg
Gambar 13. Air terjun dan peneliti 1           Gambar 14. Air terjun dan peneliti 2
F.     Kesimpulan
Berdasar dari hasil penelitian yang telah saya lakukan, legenda Jaka tarub yang dikaitkan dengan Air Terjun Sekar Langit sangat bermanfaat untuk masyarakat yang ada disekitar lokasi permandian alam tersebut, dari segi ekonomi misalkan. Dengan ramainya pengunjung yang datang dari daerah lain memberikan penghasilan tambahan bagi mereka yang berjualan disekitar lokasi wisata tersebut sehingga lokasi wisata tersebut masih sangat penting untuk dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
Sedangkan untuk bidang kebudayaan dan dinas terkait sendiri peneliti sangat mengharapkan adanya bantuan atau kerjasama dengan melakukan perbaikan sarana dan prasana yang ada dilokasi tersebut serta lebih memperhatikan akses ke lokasi wisata.   Objek wisata ini termasuk salah satu objek wisata yang sangat indah jika dibandingkan dengan objek wisata lainnya yang ada di Jawa pada umumnya dan Kabupaten Magelang pada khususnya sebab objek wisata ini memiliki keunikan khusus dengan adanya beberapa acara atau ritual tertentu yang masih sering dilakukan oleh warga pendatang di area air terjun tersebut serta masih kentalnya kepercayaan orang sekitar akan khasiat atau manfaat jika berendam di air terjun tersebut.
Adapun cara atau metoode yang harus dilakukan untuk pelestarian objek wisata Air Terjun Sekar Langit adalah dengan cara mempublikasikan dan memperkenalkan objek wisata tersebut melalui media yang ada di Yogyakarta pada khususnya dan media nasional pada umunya agar lebih dikenal oleh warga luar sehingga menarik minat untuk mengunjungi tempat tersebut. Kerja keras dari dinas kebudayaan dan dinas terkait akan menghasilkan keuntungan dan pemasukan untuk daerah dan warga sekitar jika objek wisata tersebut telah dikenal oleh masyarakat luar.
Keterangan Gambar:
Gambar 1. Plang Menuju Air Terjun Sekar Langit
Gambar 2. Sebelum Memasuki Wisata
Gambar 3. Gerbang utama
Gambar 4. Ticketing
Gambar 5. Peta Desa Tlogorejo
Gambar 6. Kepala Dusun Tlogorejo
Gambar 7. Air Terjun Sekar langit
Gambar 8. Suasana air terjun 1
Gambar 9. Suasana air terjun 2
Gambar 10. Pasangan muda-mudi
Gambar 11. Tempat sesajen 1
Gambar 12. Tempat sesajen 2
Gambar 13. Air terjun dan peneliti 1
Gambar 14. Air terjun dan peneliti 2
Daftar Pustaka

Aminuddin, 1990. Pengembangan Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Asah Asih Asuh.
Danandjaja. 1991. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafiti.
Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran: Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Bhineka Cipta.
Moleong, Lexy. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya.
Sutopo. H.B. 1996. Penelitian Kualitatif. Surakarta. Sebelas Maret University Press.
___________. 2002. Penelitian Kualitatif. __________. Sebelas Maret University Press.
Wildan, dkk. 1980. Stuktur Sastra Lisan Tamiang. Jakarta: Pusat Bahasa.

Wawancara:
1.      Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun Tlogorejo)