Air Terjun Sekar Langit
A.
Latar Belakang
Cerita rakyat, salah satu
kategori dalam folklor, menjadi bagian dari fenomena budaya tiap bangsa yang
kebertahanannya terus dibuktikan melalui kehadirannya melintasi peradaban jaman
terbaru. Transformasi di dalamnya pun menjadi wujud nyata bahwa cerita rakyat
menempati fungsinya secara nyata. Namun demikian, adakalanya anggota kolektif
cerita rakyat tertentu merasa bahwa cerita yang diwariskan oleh nenek moyangnya
dan ditumbuhkembangkan ke generasi yang lebih muda merupakan cerita milik
bangsanya. Di sisi lain, masyarakat tertentu terus menelusuri asal-usul cerita
yang dirasakan sudah menjadi miliknya namun kenyataan lain menunjukkan bahwa di
wilayah lain yang dipisahkan oleh lautan luas dan benua, cerita yang nyaris
serupa tumbuh dan berkembang pula dengan pengakuan kepemilikannya.
Kebudayaan pada hakikatnya merupakan wujud dari
upaya manusia dalam menanggapi lingkungan secara aktif. Kemampuan manusia dalam
menanggapi lingkungannya secara aktif dimungkinkan karena adanya kemampuan dan
kebersihan manusia dalam menggunakan lambang-lambang yang diberi makna dan arti
secara sistematis, sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana
komunikasi dan interaksi secara efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan
bersifat dinamis, dimana kebudayaan akan berkembang selama masyarakat
pendukungnya masih ada dalam mengembangkan kebudayaan.
Berbagai
kebudayaan yang ada di Indonesia menimbulkan suku bangsa yang memiliki
keanekaragaman budaya yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Dari
keanekaragaman tersebut melahirkan suatu kehidupan sastra yang unik. Dari
sinilah timbul bahwa pengkajian terhadap sastra merupakan kajian yang cukup
menarik. Dengan memperhatikan segi media yang digunakan, sastra yang tersebar
menggunakan media lisan yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata,
itulah sebabnya ada yang menyebutkan sebagai tradisi lisan (oral tradition).
Hal
tersebut di atas menyiratkan bahwa kebudayaan sebagai hasil kreatifitas
manusia, hasil aktifitasnya maupun hasil karya manusia, di dalamnya terkandung
juga nilai-nilai atau ide dari manusia. Segala gagasan dan angan angan,
keinginan atau pun cita-cita manusia terefleksi ke dalam hasil karya mereka
yang disebut dengan kebudayaan. Nilai-nilai atau ide yang terdapat di dalam
suatu kebudayaan, terbentuk secara sangat manusiawi dan pribadi sifatnya. Oleh
karena itu, setiap benda budaya menandai nilai tertentu, menunjukkan maksud
serta gagasan penciptanya.
Kebudayaan
yang sangat kompleks tersebut terkandung unsur-unsur universal yang ada di
dunia ini. Unsur-unsur kebudayaan tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi
tujuh unsur kebudayaan yang disebut sebagai isi pokok dari kebudayaan di dunia.
Unsur-unsur kebudayaan yang universal tersebut selanjutnya diambil menjadi
tujuh unsur kebudayaan yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap
kebudayaan di dunia (Koentjaraningrat, 1990: 203) yakni bahasa, sistem
pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem
mata pencaharian hidup, sistem religi, kesenian. Di antara sekian banyak bagian
kebudayaan tersebut merupakan bagian dari folklor.
Folklor
sebagai bagian dari kebudayaan seperti bagian kebudayaan yang lainnya, di
dalamya juga terkandung nilai-nilai budaya serta gagasan-gagasan masyarakat.
Lewat folklor dapat dipelajari segala aspek kehidupan masyarakat segala
keinginan mereka yang terefleksikan secara implisit maupun eksplisit di dalam
suatu folklor.
Folklor
sebagai suatu disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di
Indonesia belum lama dikembangkan orang (Danandjaja, 1991: 1). Folklor dapat
digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu: folklor
lisan, folklor sebagaian lisan, dan folklor bukan lisan (Brunvand, dalam
Danandjaya, 1991: 21 ). Adapun folklor lisan juga masih dibagi dalam beberapa kelompok,
di antaranya adalah cerita prosa rakyat. Sebagai sebuah jenis sastra yang hidup
dalam tradisi lisan, cerita prosa rakyat tiada terunut lagi akan siapa nama
pengarangnya (anonim). Hal ini menjadi salah satu dari ciri-ciri pengenal
folklor. Yang ada hanya bahwa cerita prosa rakyat lahir dari suatu masyarakat
tradisional yang masih memegang teguh tradisi lisannya. Cerita tersebut
berkembang, menjadi besar, dan menghilang di dalam masyarakat pemiliknya.
Hubungan di antara ke duanya, cerita rakyat dan pemiliknya, bukan merupakan
sesuatu yang dicari-cari atau hanya mengada-ada saja, sebab, sudah jelas bahwa
cerita prosa rakyat itu menampilkan gambaran kehidupan sebagai produk
sosialnya.
Salah
satu bentuk cerita rakyat yang menarik untuk diteliti adalah cerita rakyat yang
berkenaan dengan asal-usul penamaan suatu tempat. Cerita rakyat tersebut
apabila dikelompokkan, termasuk pada genre cerita rakyat legenda setempat
(local legends). Penamaan suatu tempat tidak muncul begitu saja, tetapi
berkaitan dengan berbagai hal yang pada intinya menyangkut kebudayaan suatu
masyarakat.
Dengan
demikian, agar dapat menemukenali karakter cerita rakyat, tulisan ini akan
memusatkan perhatian pada cerita rakyat sebagai gejala kelisanan. Selain itu,
perspektif kelisanan yang dipakai untuk mengkaji cerita rakyat dalam tulisan
ini juga dapat dipandang sebagai tanggapan (reaksi) terhadap kecenderungan logocentrism
dalam kehidupan akademis masa kini, yang tanpa disadari meminggirkan atau
mengabaikan kenyataan kelisanan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pada titik
ekstrim, kecenderungan logocentrism yang berlebihan dalam dunia ilmu
pengetahuan akan memunculkan jurang keterpisahan.
Cerita
rakyat tidak sekedar hidup dan tersebar dalam masayarakat, namun juga memiliki
arti penting dan fungsi-fungsi tertentu bagi kolektif pemiliknya. Pengkajian
terhadap cerita rakyat bisa dijadikan sarana yang tepat untuk penamaan
nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat yang sekarang ini sudah banyak
dilupakan, selain untuk perkembangan sastra lisan itu sendiri. Usaha untuk
menggali, memperkenalkan, menghidupi dan mengembangkan budaya tradisional yang
bernilai positif itu sangat perlu dan tidak hanya untuk tradisi itu sendiri,
tetapi lebih luas juga berguna dalam menunjang pembangunan nasional. Objek
penelitian sastra lisan yang saya pilih adalah Legenda Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan Jaka Tarub di
berbagai tulisan-tulisan yang sangat mudah ditemukan melalui internet. Dalam
hal ini, peneliti mencari data dan informan, salah satu cara untuk mengetahui
hal tersebut adalah dengan cara terjun langsung kedalam masyarakat yang berada
disekitar Air Terjun Sekar Langit
tersebut dan mencari sumber yang dapat dijadikan informan.
B. Manfaat Penelitian
Bagi penulis, penelitian ini
dapat menambah khazanah keilmuan terutama dalam bidang sastra lisan, dan dapat
mempelajari kebudayaan yang belum terungkap sebelumnyasedangkan untuk
peneliti selanjutnya diharapkan bisa menjadi referensi dan dijadikan acuan bagi
peneliti lain yang ingin meneliti lebih banyak tentang mitos atau legenda yang
ada Air Terjun Sekar Langit.
C. Landasan teori
1.
Hakikat Folklor
Secara
etimologis kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, kata dasarnya
folk dan lore (Danandjaja, 1984:1). Folk menurut Alan Dundes adalah sekelompok
orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga
dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu, antara
lain, dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang
sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, dll.
Dananjaja
menyimpulkan bahwa folk adalah sinonim dengan klektif yang juga memilik
ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran
kepribadian sebagai kesatuan masyarakat, dan yang dimaksud lor adalah tradisi
folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara
lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau
pembantu pengingat.
Foklor
menurut Dananjaja, tidak lain adalah sebagian kebudayaan suatu kolektof yang
tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa
saja, secara tradisoanal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan
maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat
(Danandjaja, 1984:2).
2.
Bentuk folklor
Folklor
jika diperhatikan dari segi bentuknya, ternyata ada dua, yaitu bentuk lisan dan
sebagian lisan (Danandjaja, 1984: Bab III).
Bentuk
folklor lisan antar lain:
1.
Bahasa rakyat, yakni bentuk folklore
Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat, adalah logat atau dialek
bahasa-bahasa Nusantara.
2.
Ungkapan tradisonal yakni yang
termasuk dalam bentu folklore semacam ini adalah peribahasa (peribahasa yang
sesungguhnya, peribahasa tidak lengap kalimatnya, peribahasa perumpamaan) dan
ungkapan (ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa).
Pertanyaan
tradisoanal yakni yang lebih dikenal sebagai teka-teki merupakan pertanyaan
yang bersifat tradisonal dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Sajak dan
puisi rakyat yakni follor lisan yang memiliki kekhususan, kalimatnya tidak
berbentuk bebas, tapi terikat. Sajak dan puisi rakyat merupakan kesusastraan
yang sudah tertentu betuknya, baik dari segi jumlah larik maupun persajakan
yang mengekhiri setiap lariknya. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah
parikan, rarakitan, wawangian, dll.
Cerita
prosa rakyat, yakni jenis folklore yang paling benyak diteliti oleh para
peniliti/ ahli folklore. Menurut Bascom (1965: 44 dalam Dananjaja, 1984:50),
cerita prosa rakyat dapat dibagi tiga golongan besar, yaitu (1) mite (myth),
(2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale).
Nyanyian
rakyat yang menurut Jan Harold Bruvand (1963:130), dalam (Dananjaja, 1984:141)
adalah salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri atas kata-kata dan
lagu, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk
tradisional serta banyak mempunyai varian.
Ada
juga bentuk folklore yang sebagaian lisan terdiri atas dua macam, yaitu (1)
kepercayaan rakyat, yang seringkali juga disebut takhyul adalah kepercayaan
yang oleh orang berpindidikan barat dianggap sederhana bahkan pander, tidak
berdasrkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawakan
kebenarannya (Danandjaja, 1984: 153); dan (2) permainan rakyat dianggap
tergolong ke dalam folklore karena memperohnya melalui warisan lisan, terutama
berlaku pada permainan rakyat kanak-kanak karena permainan ini disebarkan hampir
murni melalui tradisi lisan dan banyak di antaranya disebarluaskan tanpa
bantuan orang dewasa, seperti orang tua mereka atau guru sekolah mereka
(Danandjaja, 1984:171).
3.
Ciri Foklor
Folklor
memiliki sembilan ciri pengenal utama. Ciri pengenal folklore ini dapat
dijadikan pembeda folklor dari kebudayaan lainnya (Danandjaja, 1984: 3-4). Ciri
pertama samapai kelima berasal dari Jan Harold Brunvand (1968:4); ciri 6 dan 7
dari Carvalho-Neto (1965: 70); dan ciri ke-8 dan ke-9 dari Danandjaja (1984: 5).
Kesembilan
ciri itu sebagai berikut.
1. Penyebaran
dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan yakni saat itu penyebaran
folklor bisa terjadi dengan bantuan mesin cetak dan elektronik;
2. Bersifat
tradisional, disebarkan dalam bentuk relative tetap (standar);
3. Folklor
eksi dalam versi-versi bahkan dalam varian-varian yang berbeda lantaran
tersebar secara lisan dari mulut ke mulut;
4. Bersifat
anonym, nama pencipatanya sudah tidak diketahui orang lagi;
5. Folklor
biasanya memiliki bentuk berumus atau berpola memiliki formula tertentu dan
mamanfaatkan bentuk bahasa klise;
6. Folklor
mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif (alat pendidikan,
pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendan);
7. Folklor
bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan
logika umum (ciri ini berlaku baik bagi folklore lisan maupun folklore
sebagaian lisan);
8. Menjadi
milik bersama dari kolektif tertentu, hal ini disebabkan oleh pencipta pertama
sudah tidak diketahui lagi;
9. Folklor
pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatannya kasar,
terlalu spontan; hal demikian itu dapat dimengerti apabila mengingat bahwa
banyak folkor merupakan proyeksi emosi menusia-manusia yang paling jujur
manifestasinya.
Sejalan
dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai maka pembicaraan secara teoritis
tenatang folkor berkisar sekitar cerita (prosa) rakyat meliputi mite, legenda,
dan dongeng.
1.
Mite
Menurut Bascom (1985b: 3-20 dalam Danandjaja, 1984: 50), mite adalah cerita
prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang
empunya cerita. Mite ditokohi oleh dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa
terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti kita kenal sekarang, dan
terjadi pada masa lampau. Adapun legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai
ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi,
tetapi tidak dianggap suci. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi manusia
walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering juga dibantu
makhluk-makhluk ajaib. Akan tetapi, terjadinya mite adalah di dunia seperti
yang kita kenal kini karena waktu terjadinya belum terlalu lampau. Sebaliknya,
dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak terikat oleh waktu ataupun
tempat.
Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia
pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk tipgrafi, gejala alam,
dan sebgainya. Mite juga mengisahkan pertualangan para dewa, kisah percintaan
mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya
(Bascom, 1965b: 4-5 dalam Danandjaja, 1984: 51).
2. Legenda
Seperti halnya dengan mite, legenda adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh
pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian),
terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti
yang kita kenal (Danandjaja, 1984:66).
Legenda sendiri dapat digolongkan ke dalam empat kelompok,, seperti
dikemukakan Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja, 1984: 67), yaitu (1) legenda
keagamaan (religious legends), (2) legenda alam gaib (supernatural legends),
(3) legenda perseorangan (personal legends) dan (4) legenda setempat (local
legends).
a.
Legenda keagamaan
Yang
termasuk dalam golongan ini, antar lain, adalah legenda orang-orang suci
(saint) Nasrani. Legenda demikian itu, jika telah diakui dan disahkan oleh
Gereja Katolik Roma, akan menjadi bagian kesusastraan agama yang disebut
hagiography, yang berarti tulisan, karangan, atau buku mengenai penghidupan
orang-orang saleh. Di Jawa, legenda orang saleh adalah mengenai para wali agama
islam, yakni para penyebar agama (proselytizer) Islam pada awal perkembangan
agama Islam di Jawa. Para wali yang penting di Jawa adalah yang tergolong
sebagai wali sanga, atau sembilan orang wali.
b. Legenda
alam gaib
Legenda
semacam ini biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan
pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini terang adalah untuk
meneguhkan kebenaran “takhyul” atau keprcayaan rakyat. Berhubung legenda alam
gaib ini merupakan pengelaman pribadi seseorang, oleh ahli folklor Sewedia
terkenal C.V. von Sydow diberi nama khusus, yaitu memorat (Bruvand, 1968:89
dalam Danandjaja, 1984: 71). Walaupun legenda itu merupakan pribadi seseorang
“pengalaman” itu mengandung banyak motif cerita tradisional yang khas ada pada
kolektifnya. Legenda gaib semacam ini banyak berkembang di daerah Nusantara,
misalnya sundel blong di Jawa Tengah, atau juga gendrung; cerita onom di
Kabupaten/Daerah Tingkat II Ciamis (tepatnya di daerah Lakbak).
c. Legenda
perseoarangan
Legenda
jenis ini adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh
pemilik cerita benar-benar pernah terjadi (Danandjaja, 1984:73-75). Menurutnya,
di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali. Di Jawa Timur yang peling
terkenal adalah legenda tokoh Panji dan di Bali legenda tokoh popular bernama
Jayaprana.
d. Legenda
setempat
Yang
termsuk dalam golongan ini adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat,
nama tempat dan bentuk topogrofi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, yang
berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya (Danandjaja, 1984: 75-83).
D. Metode penelitian
1.
Pendekatan penelitian
Penelitian ini menerapkan
metode kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1989: 3) mendefinisikan,
“metode penelitian” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat
diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh.
2.
Objek penelitian
Objek penelitian dalam
penelitian ini adalah Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda
Jaka Tarub yang terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan
Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah.
3.
Data dan Sumber data
1.
Data
Data adalah sebuah informasi
atau bahan yang disediakan atau yang harus dicari dan dikumpulkan oleh pengkaji
untuk memberikan jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Imron,
2003:112). Adapun data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud informasi
tentang Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub yang
terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten
Magelang Jawa tengah.
2.
Sumber data
Sumber data merupakan bagian yang sangat penting bagi peneliti, karena
ketepatan memilih dan menentukan jenis, sumber data akan menentukan ketepatan
dan kekayaan data atau informasi yang diperoleh (Sutopo, 2002: 49).
Adapun dalam penelitian ini sumber data yang digunakan dapat berupa
manusia, peristiwa dan tingkah laku, dokumen atau arsip-arsip benda lain.
Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer, sedangkan data
sekunder belum diketemukan.
Data primer adalah data yang langsung dukumpulkan dari sumber pertama.
Adapun sumber data primer dalam penelitian ini penduduk asli sekitar yang
berdomisili disekitar Air Terjun Sekar Langit.
4.
Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi,
wawancara dan dokumentesi, penjelasannya sebagai berikut:
1.
Teknik Observasi
Menurut Sutopo (2002: 64), observasi adalah suatu teknik yang digunakan
untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi
dan benda serta rekaman gambar tertentu.
2.
Teknik wawancara
Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara menanyakan
sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah bercakap-cakap secara tatap
muka (Aminuddin, 1990: 103).
Bentuk wawancara ada beberapa macam, namun untuk penelitian folklore
umumnya ada dua macam, yaitu wawancara terarah dan wawancara tidak terarah.
Wawancara tidak terarah adalah wawancara yang bersifat bebas, santai, dan
memberi informasi kesempatan sebesar-besarnya untuk memberikan keterangan yang
ditanyakan (Danandjaja: 1991: 195).
3.
Teknik Dokumentasi
Penelitian akan lebih mudah dan bertahan lama jika diadakan perekaman, baik
itu dalam bentuk foto, buku, maupun perekam suara (Badudu dalam Puspitasi,
2007). Semua itu adalah dokumen, sedangkan dokumentasi adalah kegiatan yang
menyangkut dokumen. Dokumentasi yang dikumpulkan harus utuh dan mutakhir.
Adapun dokumentasi dalam penelitian ini adalah wujud dokumentasi tulisan wawancara
dengan warga dan foto-foto.
5.
Teknik analisis data
Milles dan Huberman (dalam Sutopo, 2002:74) menyatakan bahwa terdapat dua
model pokok dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kualitatif, yaitu
(1) model analisis jalinan atau mengalir dan (2) model analisis interaktif.
Dari dua model dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kulalitatif
tersebut peneliti menggunakan model kedua, yaitu mdel analisis interaktif.
Dalam model analisis interaktif terdiri dari empat kemampuan analisis yaiutu,
reduksi data, sajian data, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan,
aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data
sebagai proses siklus.
Langkah-langkah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut.
1. Pengumpulan data, yaitu pengumpulan data di lokasi studi dengan
melakukan observasi, wawancara mendalam, dan mencatat dokumen menentukan
strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan menentukan fokus serta
pendalaman data pada proses pengumpulan data berikut (Sutopo, 1996:89).
2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi pemfokusan, pengabstrakan,
dan transformasi data kasar yang ada dalam lapangan langsung dan diteruskan
pada pengumpulan data (Sutopo, 1996:87).
3. Sajian data yaitu, suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan
kesimpulan penelitian dilakukan.
4. Penarikan kesimpulan, sejak awal pengumpulan data peneliti harus
mengamati dan tanggap terhadap hal-hal yang ditemui dilapangan (dengan meyusun
pola-pola asahan dan sebab akibat (Sutopo, 1996: 87).
Dalam penelitian ini, yang pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan data
yang dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini
pengumpulan data dilkukan dengan pengamatan langsung mengenai tempat dan lokasi
cerita rakyat Jaka Tarub dan dilanjutkan dengan penarikan informasi secara
mendalam dan langsung dari masyarakat yang menjadi narasumber dalam penelitian
ini. Pengumpulan data dari hasil wawancara dalam wujud dokumentasi, adapun
dokumentasi dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan masyarakat
sekitar lokasi Air Terjun Sekar Langit serta berupa foto dari lokasi air
terjun.
E. Hasil dan Analisis
1.
Deskripsi Wilayah
Air terjun
Sekar Langit terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag
kabupaten Magelang Jawa tengah, yang berjarak sekitar 61 km dan dapat ditempuh
dengan sepeda motor atau mobil selama 2 sampai 2,5 jam dari kota Yogyakarta.
Air Terjun Sekar Langit
Gambar 1.
Plang Menuju Air Terjun Sekar Langit Gambar 2. Sebelum Memasuki Wisata

Gambar 3. Gerbang utama Gambar 4. Ticketing

Gambar 5. Peta Desa Tlogorejo
Penamaan air
terjun sekar langit berasal dari dua kata yaitu, Sekar yang berarti bunga dan langit
artinya diatas. Jika digabung, Sekar
langit itu berarti keindahan yang
berasal dari atas (langit) dalam hal ini yang berasal dari atas itu adalah
bidadari. Seperti yang diketahui oleh hampir semua kalangan tempat tinggal
bidadari itu berasal dari kayangan,
sedangkan Kayangan itu berada dilangit.
Jika kita
mencari tentang asal-usul Air terjun Sekar langit di media sosial atau di
website yang kita temukan adalah legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang
bidadari yang kemudian memperistri bidadari tersebut. Bidadari tersebut tidak
dapat kembali ke kayangan karena tidak mempunyai selendang untuk terbang dan
akhirnya menikah dengan Jaka Tarub dan membina rumah tangga layaknya manusia
biasa dan dikarunia seorang anak. Namun seiring berjalannya waktu, Bidadari tersebut
mengetahui kebenaran jika yang mencuri selendangnya adalah suaminya sendiri yaitu
Jaka Tarub. Ia pun meninggalkan suami dan anaknya Nawangsari karena kecewa kepada suaminya.
Hal pertama
yang peneliti lakukan adalah mencari infomasi dari beberapa warga sekitar
sepanjang jalan, namun peniliti sendiri menemukan kendala yang sangat sulit
untuk dipecahkan karena peniliti tidak berasal dari Jawa makanya sangat tidak
memungkinkan untuk mengetahui bahasa daerah yang digunakan oleh warga sekitar.
Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menggali informasi
yang lebih banyak guna melanjutkannya. Hal pertama yang dilakukan adalah
mencari informasi dari penjaga objek wisata, dari informasi yang diperolah
informan memberikan bantuan yang sangat berarti untuk melanjutkan penelitian
karena memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dengan memberi nama-nama
yang dianggap mengetahui banyak hal tentang cerita atau legenda yang ada air
terjun Sekar Langit.
|
2.
Hasil Penelitian
Air terjun
sekar langit mulai dibuka untuk umum atau dijadikan objek wisata pada Tahun
1970an, sebelum itu tempat tersebut masih menjadi tempat untuk warga sekitar
untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan sebagainya atau belum
dikomersilkan dan belum dikenal oleh masyarakat umum maupun masyarakat luas.
Dari segi penamaan, Air terjun Sekar
langit telah ada, Sekar langit itu sendiri merupakan istilah. Warga sekitar
atau orang tua dahulu menamakan Sekar langit berasal dari kata Sekar yang berarti bunga sedangkan langit berarti sesuatu yang diatas. Jika
digabung Sekar langit berarti sesuatu yang indah dan berasal dari atas karena
terletak diatas pegunungan atau keindahan/kecantikan yang berasal dari atas
(langit).
Legenda Jaka
Tarub itu sebenarnya tidak ada menurut para tetua atau leluhur yang ada di
sekitar air terjun tersebut melainkan dari media sosial atau internet. Ada
kemungkinan yang menulis di internet atau blog hanya mengaitkan
penampakan-penampakan yang ada di Sekar langit dengan sesuatu perwujudan yang
ada dalam Legenda Jaka Tarub. Hal-hal gaib yang sering muncul adalah Angsa Emas
yang sering muncul di sekitar air terjun (beberapa tahun terakhir, fenomena
tersebut tidak pernah muncul atau terlihat lagi). Beberapa penulis yang hanya
mengaitkan hal tersebut sehingga menarik kesimpulan semacam itu. Angsa emas itu
di ibaratkan sebagai Nawang Wulan (istri
Jaka Tarub) yang ingin bertemu anaknya di bumi yaitu Nawangsari harus berubah wujud menjadi angsa. Dia hanya ke bumi
jika rindu atau ingin berkunjung menemui anaknya dan tidak ingin bertemu lagi
dengan suaminya karena kecewa. Nawangsari sendiri tidak bisa ikut ibunya ke
kayangan karena dia tidak murni bidadari melainkan campuran antara manusia dan
bidadari.
Lebih lanjut dan
meluruskan beberapa hal menurut sumber, legenda Jaka Tarub itu berada di
Purwodadi bukan di Tlogorejo (Air terjun Sekar langit). Menurut keterangan yang
peneliti peroleh, beberapa waktu sebelumnya juga beliau didatangi oleh
rombongan diknas budaya dan parawisata Yogyakarta terkait maraknya di situs
internet tentang legenda Jaka Tarub di kawasan wisata tersebut. Kepercayaan-kepercayaan
yang di anut atau dipercaya oleh sebagian orang jika berkujung atau mandi di
Air terjun Sekar langit diantaranya, Awet
muda, menambah aura kecantikan, mempermudah jodoh, membesarkan payudara
(khusus untuk perempuan). Namun semua itu kembali berdasakan keyakinan dari
individu masing-masing untuk percaya atau tidak.
Air terjun ini
juga dipercaya dan diyakini oleh sebagian orang berkhasiat untuk kesehatan jika
berendam dibawah pancuran air terjun serta membersihkan diri dari berbagai
penyakit. Beberapa pengunjug yang sempat peneliti temui di lokasi juga
meyakini jika mandi bersama pasangan di
bawah pancuran air terjun yang mengalir langsung dari puncak air terjun akan
berjodoh dengan kekasihnya serta tidak akan ada pertengkaran selama pacaran dan
akan langgeng hingga membina rumah tangga kelak. Jadi, jangan heran jika
berkunjung ketempat ini melihat pemandangan yang dipenuhi oleh pasangan dan
kebanyakan dari kaum wanita, baik sekadar menikmati pemandangan alam yang memang
sangat indah, sejuk dan masih alami serta untuk mandi dan berendam dibawah
pancuran air terjun tersebut sambil bercengkerama dengan teman atau pengunjung
yang lainnya.
Pantangan yang
sangat disarankan dari informan jika mengunjungi kawasan ini adalah jangan
berpikiran kosong ketika memasuki tempat ini disebabkan masih banyak atau
seringnya muncul penampakan disepanjang jalan menuju air terjun. Hal gaib yang
sering menampakkan ditempat ini adalah Angsa
emas, Wewe dan Kuntilanak. Sekitar 400 meter dari areal parkir menuju air
terjun, terdapat sebuah batu yang menyerupai tudung yang sering digunakan oleh
para pengunjung untuk menaruh sesajen ditempat tersebut (bukan warga setempat).
Penyimpanan sesajen itu berupa susunan batu dan terletak diseblah kanan jalan memasuki
kawasan air terjun, adapun sesajen yang biasanya diletakkan ditempat tersebut
adalah Ingkung (ayam utuh yang telah
dimasak atau digoreng namun tetap utuh, dan harus ayam asli Jawa dan ayam jago),
hasil bumi (buah-buahan dan makanan pokok) serta rokok. Sesajen tersebut
diletakkan disana dan berharap mendapatkan pengasihan atau kesehatan, namun
semua itu bergantung dan kembali kepada keyakinan masing-masing untuk percaya
hal tersebut atau tidak lanjut informan.
F. Kesimpulan
Berdasar dari hasil
penelitian yang telah saya lakukan, legenda Jaka tarub yang dikaitkan
dengan Air Terjun Sekar Langit sangat
bermanfaat untuk masyarakat yang ada disekitar lokasi permandian alam tersebut,
dari segi ekonomi misalkan. Dengan ramainya pengunjung yang datang dari daerah
lain memberikan penghasilan tambahan bagi mereka yang berjualan disekitar
lokasi wisata tersebut sehingga lokasi wisata tersebut masih sangat penting
untuk dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
Sedangkan
untuk bidang kebudayaan dan dinas terkait sendiri peneliti sangat mengharapkan
adanya bantuan atau kerjasama dengan melakukan perbaikan sarana dan prasana
yang ada dilokasi tersebut serta lebih memperhatikan akses ke lokasi
wisata. Objek wisata ini termasuk salah
satu objek wisata yang sangat indah jika dibandingkan dengan objek wisata
lainnya yang ada di Jawa pada umumnya dan Kabupaten Magelang pada khususnya
sebab objek wisata ini memiliki keunikan khusus dengan adanya beberapa acara
atau ritual tertentu yang masih sering dilakukan oleh warga pendatang di area
air terjun tersebut serta masih kentalnya kepercayaan orang sekitar akan
khasiat atau manfaat jika berendam di air terjun tersebut.
Adapun cara
atau metoode yang harus dilakukan untuk pelestarian objek wisata Air Terjun
Sekar Langit adalah dengan cara mempublikasikan dan memperkenalkan objek wisata
tersebut melalui media yang ada di Yogyakarta pada khususnya dan media nasional
pada umunya agar lebih dikenal oleh warga luar sehingga menarik minat untuk
mengunjungi tempat tersebut. Kerja keras dari dinas kebudayaan dan dinas
terkait akan menghasilkan keuntungan dan pemasukan untuk daerah dan warga
sekitar jika objek wisata tersebut telah dikenal oleh masyarakat luar.
Daftar Pustaka
Aminuddin, 1990. Pengembangan Penelitian
Kualitatif Dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Asah Asih Asuh.
Danandjaja. 1991. Folklor Indonesia: Ilmu
Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafiti.
Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran: Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran: Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi.
Jakarta: Bhineka Cipta.
Moleong, Lexy. 1989. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Karya.
Sutopo. H.B. 1996. Penelitian Kualitatif.
Surakarta. Sebelas Maret University Press.
___________. 2002. Penelitian Kualitatif.
__________. Sebelas Maret University Press.
Wildan, dkk. 1980. Stuktur Sastra Lisan
Tamiang. Jakarta: Pusat Bahasa.
Wawancara:
1.
Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun
Tlogorejo)
ll
LLampiran
Air Terjun Sekar Langit
A.
Latar Belakang
Cerita rakyat, salah satu
kategori dalam folklor, menjadi bagian dari fenomena budaya tiap bangsa yang
kebertahanannya terus dibuktikan melalui kehadirannya melintasi peradaban jaman
terbaru. Transformasi di dalamnya pun menjadi wujud nyata bahwa cerita rakyat
menempati fungsinya secara nyata. Namun demikian, adakalanya anggota kolektif
cerita rakyat tertentu merasa bahwa cerita yang diwariskan oleh nenek moyangnya
dan ditumbuhkembangkan ke generasi yang lebih muda merupakan cerita milik
bangsanya. Di sisi lain, masyarakat tertentu terus menelusuri asal-usul cerita
yang dirasakan sudah menjadi miliknya namun kenyataan lain menunjukkan bahwa di
wilayah lain yang dipisahkan oleh lautan luas dan benua, cerita yang nyaris
serupa tumbuh dan berkembang pula dengan pengakuan kepemilikannya.
Kebudayaan pada hakikatnya merupakan wujud dari
upaya manusia dalam menanggapi lingkungan secara aktif. Kemampuan manusia dalam
menanggapi lingkungannya secara aktif dimungkinkan karena adanya kemampuan dan
kebersihan manusia dalam menggunakan lambang-lambang yang diberi makna dan arti
secara sistematis, sehingga memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana
komunikasi dan interaksi secara efektif. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan
bersifat dinamis, dimana kebudayaan akan berkembang selama masyarakat
pendukungnya masih ada dalam mengembangkan kebudayaan.
Berbagai
kebudayaan yang ada di Indonesia menimbulkan suku bangsa yang memiliki
keanekaragaman budaya yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri. Dari
keanekaragaman tersebut melahirkan suatu kehidupan sastra yang unik. Dari
sinilah timbul bahwa pengkajian terhadap sastra merupakan kajian yang cukup
menarik. Dengan memperhatikan segi media yang digunakan, sastra yang tersebar
menggunakan media lisan yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata,
itulah sebabnya ada yang menyebutkan sebagai tradisi lisan (oral tradition).
Hal
tersebut di atas menyiratkan bahwa kebudayaan sebagai hasil kreatifitas
manusia, hasil aktifitasnya maupun hasil karya manusia, di dalamnya terkandung
juga nilai-nilai atau ide dari manusia. Segala gagasan dan angan angan,
keinginan atau pun cita-cita manusia terefleksi ke dalam hasil karya mereka
yang disebut dengan kebudayaan. Nilai-nilai atau ide yang terdapat di dalam
suatu kebudayaan, terbentuk secara sangat manusiawi dan pribadi sifatnya. Oleh
karena itu, setiap benda budaya menandai nilai tertentu, menunjukkan maksud
serta gagasan penciptanya.
Kebudayaan
yang sangat kompleks tersebut terkandung unsur-unsur universal yang ada di
dunia ini. Unsur-unsur kebudayaan tersebut selanjutnya dikelompokkan menjadi
tujuh unsur kebudayaan yang disebut sebagai isi pokok dari kebudayaan di dunia.
Unsur-unsur kebudayaan yang universal tersebut selanjutnya diambil menjadi
tujuh unsur kebudayaan yang dapat disebut sebagai isi pokok dari setiap
kebudayaan di dunia (Koentjaraningrat, 1990: 203) yakni bahasa, sistem
pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem
mata pencaharian hidup, sistem religi, kesenian. Di antara sekian banyak bagian
kebudayaan tersebut merupakan bagian dari folklor.
Folklor
sebagai bagian dari kebudayaan seperti bagian kebudayaan yang lainnya, di
dalamya juga terkandung nilai-nilai budaya serta gagasan-gagasan masyarakat.
Lewat folklor dapat dipelajari segala aspek kehidupan masyarakat segala
keinginan mereka yang terefleksikan secara implisit maupun eksplisit di dalam
suatu folklor.
Folklor
sebagai suatu disiplin atau cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di
Indonesia belum lama dikembangkan orang (Danandjaja, 1991: 1). Folklor dapat
digolongkan ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipenya, yaitu: folklor
lisan, folklor sebagaian lisan, dan folklor bukan lisan (Brunvand, dalam
Danandjaya, 1991: 21 ). Adapun folklor lisan juga masih dibagi dalam beberapa kelompok,
di antaranya adalah cerita prosa rakyat. Sebagai sebuah jenis sastra yang hidup
dalam tradisi lisan, cerita prosa rakyat tiada terunut lagi akan siapa nama
pengarangnya (anonim). Hal ini menjadi salah satu dari ciri-ciri pengenal
folklor. Yang ada hanya bahwa cerita prosa rakyat lahir dari suatu masyarakat
tradisional yang masih memegang teguh tradisi lisannya. Cerita tersebut
berkembang, menjadi besar, dan menghilang di dalam masyarakat pemiliknya.
Hubungan di antara ke duanya, cerita rakyat dan pemiliknya, bukan merupakan
sesuatu yang dicari-cari atau hanya mengada-ada saja, sebab, sudah jelas bahwa
cerita prosa rakyat itu menampilkan gambaran kehidupan sebagai produk
sosialnya.
Salah
satu bentuk cerita rakyat yang menarik untuk diteliti adalah cerita rakyat yang
berkenaan dengan asal-usul penamaan suatu tempat. Cerita rakyat tersebut
apabila dikelompokkan, termasuk pada genre cerita rakyat legenda setempat
(local legends). Penamaan suatu tempat tidak muncul begitu saja, tetapi
berkaitan dengan berbagai hal yang pada intinya menyangkut kebudayaan suatu
masyarakat.
Dengan
demikian, agar dapat menemukenali karakter cerita rakyat, tulisan ini akan
memusatkan perhatian pada cerita rakyat sebagai gejala kelisanan. Selain itu,
perspektif kelisanan yang dipakai untuk mengkaji cerita rakyat dalam tulisan
ini juga dapat dipandang sebagai tanggapan (reaksi) terhadap kecenderungan logocentrism
dalam kehidupan akademis masa kini, yang tanpa disadari meminggirkan atau
mengabaikan kenyataan kelisanan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pada titik
ekstrim, kecenderungan logocentrism yang berlebihan dalam dunia ilmu
pengetahuan akan memunculkan jurang keterpisahan.
Cerita
rakyat tidak sekedar hidup dan tersebar dalam masayarakat, namun juga memiliki
arti penting dan fungsi-fungsi tertentu bagi kolektif pemiliknya. Pengkajian
terhadap cerita rakyat bisa dijadikan sarana yang tepat untuk penamaan
nilai-nilai dan norma-norma dalam masyarakat yang sekarang ini sudah banyak
dilupakan, selain untuk perkembangan sastra lisan itu sendiri. Usaha untuk
menggali, memperkenalkan, menghidupi dan mengembangkan budaya tradisional yang
bernilai positif itu sangat perlu dan tidak hanya untuk tradisi itu sendiri,
tetapi lebih luas juga berguna dalam menunjang pembangunan nasional. Objek
penelitian sastra lisan yang saya pilih adalah Legenda Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan Jaka Tarub di
berbagai tulisan-tulisan yang sangat mudah ditemukan melalui internet. Dalam
hal ini, peneliti mencari data dan informan, salah satu cara untuk mengetahui
hal tersebut adalah dengan cara terjun langsung kedalam masyarakat yang berada
disekitar Air Terjun Sekar Langit
tersebut dan mencari sumber yang dapat dijadikan informan.
B. Manfaat Penelitian
Bagi penulis, penelitian ini
dapat menambah khazanah keilmuan terutama dalam bidang sastra lisan, dan dapat
mempelajari kebudayaan yang belum terungkap sebelumnyasedangkan untuk
peneliti selanjutnya diharapkan bisa menjadi referensi dan dijadikan acuan bagi
peneliti lain yang ingin meneliti lebih banyak tentang mitos atau legenda yang
ada Air Terjun Sekar Langit.
C. Landasan teori
1.
Hakikat Folklor
Secara
etimologis kata folklor berasal dari bahasa Inggris folklore, kata dasarnya
folk dan lore (Danandjaja, 1984:1). Folk menurut Alan Dundes adalah sekelompok
orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan sehingga
dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu, antara
lain, dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang
sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, dll.
Dananjaja
menyimpulkan bahwa folk adalah sinonim dengan klektif yang juga memilik
ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran
kepribadian sebagai kesatuan masyarakat, dan yang dimaksud lor adalah tradisi
folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun secara
lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau
pembantu pengingat.
Foklor
menurut Dananjaja, tidak lain adalah sebagian kebudayaan suatu kolektof yang
tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, di antara kolektif macam apa
saja, secara tradisoanal dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan
maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat
(Danandjaja, 1984:2).
2.
Bentuk folklor
Folklor
jika diperhatikan dari segi bentuknya, ternyata ada dua, yaitu bentuk lisan dan
sebagian lisan (Danandjaja, 1984: Bab III).
Bentuk
folklor lisan antar lain:
1.
Bahasa rakyat, yakni bentuk folklore
Indonesia yang termasuk dalam kelompok bahasa rakyat, adalah logat atau dialek
bahasa-bahasa Nusantara.
2.
Ungkapan tradisonal yakni yang
termasuk dalam bentu folklore semacam ini adalah peribahasa (peribahasa yang
sesungguhnya, peribahasa tidak lengap kalimatnya, peribahasa perumpamaan) dan
ungkapan (ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa).
Pertanyaan
tradisoanal yakni yang lebih dikenal sebagai teka-teki merupakan pertanyaan
yang bersifat tradisonal dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Sajak dan
puisi rakyat yakni follor lisan yang memiliki kekhususan, kalimatnya tidak
berbentuk bebas, tapi terikat. Sajak dan puisi rakyat merupakan kesusastraan
yang sudah tertentu betuknya, baik dari segi jumlah larik maupun persajakan
yang mengekhiri setiap lariknya. Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah
parikan, rarakitan, wawangian, dll.
Cerita
prosa rakyat, yakni jenis folklore yang paling benyak diteliti oleh para
peniliti/ ahli folklore. Menurut Bascom (1965: 44 dalam Dananjaja, 1984:50),
cerita prosa rakyat dapat dibagi tiga golongan besar, yaitu (1) mite (myth),
(2) legenda (legend), dan (3) dongeng (folktale).
Nyanyian
rakyat yang menurut Jan Harold Bruvand (1963:130), dalam (Dananjaja, 1984:141)
adalah salah satu genre atau bentuk folklore yang terdiri atas kata-kata dan
lagu, yang beredar secara lisan di antara anggota kolektif tertentu, berbentuk
tradisional serta banyak mempunyai varian.
Ada
juga bentuk folklore yang sebagaian lisan terdiri atas dua macam, yaitu (1)
kepercayaan rakyat, yang seringkali juga disebut takhyul adalah kepercayaan
yang oleh orang berpindidikan barat dianggap sederhana bahkan pander, tidak
berdasrkan logika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawakan
kebenarannya (Danandjaja, 1984: 153); dan (2) permainan rakyat dianggap
tergolong ke dalam folklore karena memperohnya melalui warisan lisan, terutama
berlaku pada permainan rakyat kanak-kanak karena permainan ini disebarkan hampir
murni melalui tradisi lisan dan banyak di antaranya disebarluaskan tanpa
bantuan orang dewasa, seperti orang tua mereka atau guru sekolah mereka
(Danandjaja, 1984:171).
3.
Ciri Foklor
Folklor
memiliki sembilan ciri pengenal utama. Ciri pengenal folklore ini dapat
dijadikan pembeda folklor dari kebudayaan lainnya (Danandjaja, 1984: 3-4). Ciri
pertama samapai kelima berasal dari Jan Harold Brunvand (1968:4); ciri 6 dan 7
dari Carvalho-Neto (1965: 70); dan ciri ke-8 dan ke-9 dari Danandjaja (1984: 5).
Kesembilan
ciri itu sebagai berikut.
1. Penyebaran
dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan yakni saat itu penyebaran
folklor bisa terjadi dengan bantuan mesin cetak dan elektronik;
2. Bersifat
tradisional, disebarkan dalam bentuk relative tetap (standar);
3. Folklor
eksi dalam versi-versi bahkan dalam varian-varian yang berbeda lantaran
tersebar secara lisan dari mulut ke mulut;
4. Bersifat
anonym, nama pencipatanya sudah tidak diketahui orang lagi;
5. Folklor
biasanya memiliki bentuk berumus atau berpola memiliki formula tertentu dan
mamanfaatkan bentuk bahasa klise;
6. Folklor
mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama suatu kolektif (alat pendidikan,
pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan yang terpendan);
7. Folklor
bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan
logika umum (ciri ini berlaku baik bagi folklore lisan maupun folklore
sebagaian lisan);
8. Menjadi
milik bersama dari kolektif tertentu, hal ini disebabkan oleh pencipta pertama
sudah tidak diketahui lagi;
9. Folklor
pada umumnya bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatannya kasar,
terlalu spontan; hal demikian itu dapat dimengerti apabila mengingat bahwa
banyak folkor merupakan proyeksi emosi menusia-manusia yang paling jujur
manifestasinya.
Sejalan
dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai maka pembicaraan secara teoritis
tenatang folkor berkisar sekitar cerita (prosa) rakyat meliputi mite, legenda,
dan dongeng.
1.
Mite
Menurut Bascom (1985b: 3-20 dalam Danandjaja, 1984: 50), mite adalah cerita
prosa rakyat, yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang
empunya cerita. Mite ditokohi oleh dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa
terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti kita kenal sekarang, dan
terjadi pada masa lampau. Adapun legenda adalah prosa rakyat yang mempunyai
ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi,
tetapi tidak dianggap suci. Berbeda dengan mite, legenda ditokohi manusia
walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan sering juga dibantu
makhluk-makhluk ajaib. Akan tetapi, terjadinya mite adalah di dunia seperti
yang kita kenal kini karena waktu terjadinya belum terlalu lampau. Sebaliknya,
dongeng adalah prosa rakyat yang dianggap tidak terikat oleh waktu ataupun
tempat.
Mite pada umumnya mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia
pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk tipgrafi, gejala alam,
dan sebgainya. Mite juga mengisahkan pertualangan para dewa, kisah percintaan
mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya
(Bascom, 1965b: 4-5 dalam Danandjaja, 1984: 51).
2. Legenda
Seperti halnya dengan mite, legenda adalah cerita prosa rakyat yang
dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh
pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian),
terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti
yang kita kenal (Danandjaja, 1984:66).
Legenda sendiri dapat digolongkan ke dalam empat kelompok,, seperti
dikemukakan Jan Harold Brunvand (dalam Danandjaja, 1984: 67), yaitu (1) legenda
keagamaan (religious legends), (2) legenda alam gaib (supernatural legends),
(3) legenda perseorangan (personal legends) dan (4) legenda setempat (local
legends).
a.
Legenda keagamaan
Yang
termasuk dalam golongan ini, antar lain, adalah legenda orang-orang suci
(saint) Nasrani. Legenda demikian itu, jika telah diakui dan disahkan oleh
Gereja Katolik Roma, akan menjadi bagian kesusastraan agama yang disebut
hagiography, yang berarti tulisan, karangan, atau buku mengenai penghidupan
orang-orang saleh. Di Jawa, legenda orang saleh adalah mengenai para wali agama
islam, yakni para penyebar agama (proselytizer) Islam pada awal perkembangan
agama Islam di Jawa. Para wali yang penting di Jawa adalah yang tergolong
sebagai wali sanga, atau sembilan orang wali.
b. Legenda
alam gaib
Legenda
semacam ini biasanya berbentuk kisah yang dianggap benar-benar terjadi dan
pernah dialami seseorang. Fungsi legenda semacam ini terang adalah untuk
meneguhkan kebenaran “takhyul” atau keprcayaan rakyat. Berhubung legenda alam
gaib ini merupakan pengelaman pribadi seseorang, oleh ahli folklor Sewedia
terkenal C.V. von Sydow diberi nama khusus, yaitu memorat (Bruvand, 1968:89
dalam Danandjaja, 1984: 71). Walaupun legenda itu merupakan pribadi seseorang
“pengalaman” itu mengandung banyak motif cerita tradisional yang khas ada pada
kolektifnya. Legenda gaib semacam ini banyak berkembang di daerah Nusantara,
misalnya sundel blong di Jawa Tengah, atau juga gendrung; cerita onom di
Kabupaten/Daerah Tingkat II Ciamis (tepatnya di daerah Lakbak).
c. Legenda
perseoarangan
Legenda
jenis ini adalah cerita mengenai tokoh-tokoh tertentu yang dianggap oleh
pemilik cerita benar-benar pernah terjadi (Danandjaja, 1984:73-75). Menurutnya,
di Indonesia legenda semacam ini banyak sekali. Di Jawa Timur yang peling
terkenal adalah legenda tokoh Panji dan di Bali legenda tokoh popular bernama
Jayaprana.
d. Legenda
setempat
Yang
termsuk dalam golongan ini adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat,
nama tempat dan bentuk topogrofi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, yang
berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya (Danandjaja, 1984: 75-83).
D. Metode penelitian
1.
Pendekatan penelitian
Penelitian ini menerapkan
metode kualitatif. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1989: 3) mendefinisikan,
“metode penelitian” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat
diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh.
2.
Objek penelitian
Objek penelitian dalam
penelitian ini adalah Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda
Jaka Tarub yang terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan
Grabag kabupaten Magelang Jawa tengah.
3.
Data dan Sumber data
1.
Data
Data adalah sebuah informasi
atau bahan yang disediakan atau yang harus dicari dan dikumpulkan oleh pengkaji
untuk memberikan jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Imron,
2003:112). Adapun data dalam penelitian ini adalah data yang berwujud informasi
tentang Air terjun Sekar Langit yang dikaitkan dengan legenda Jaka Tarub yang
terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag kabupaten
Magelang Jawa tengah.
2.
Sumber data
Sumber data merupakan bagian yang sangat penting bagi peneliti, karena
ketepatan memilih dan menentukan jenis, sumber data akan menentukan ketepatan
dan kekayaan data atau informasi yang diperoleh (Sutopo, 2002: 49).
Adapun dalam penelitian ini sumber data yang digunakan dapat berupa
manusia, peristiwa dan tingkah laku, dokumen atau arsip-arsip benda lain.
Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer, sedangkan data
sekunder belum diketemukan.
Data primer adalah data yang langsung dukumpulkan dari sumber pertama.
Adapun sumber data primer dalam penelitian ini penduduk asli sekitar yang
berdomisili disekitar Air Terjun Sekar Langit.
4.
Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi,
wawancara dan dokumentesi, penjelasannya sebagai berikut:
1.
Teknik Observasi
Menurut Sutopo (2002: 64), observasi adalah suatu teknik yang digunakan
untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat atau lokasi
dan benda serta rekaman gambar tertentu.
2.
Teknik wawancara
Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara menanyakan
sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah bercakap-cakap secara tatap
muka (Aminuddin, 1990: 103).
Bentuk wawancara ada beberapa macam, namun untuk penelitian folklore
umumnya ada dua macam, yaitu wawancara terarah dan wawancara tidak terarah.
Wawancara tidak terarah adalah wawancara yang bersifat bebas, santai, dan
memberi informasi kesempatan sebesar-besarnya untuk memberikan keterangan yang
ditanyakan (Danandjaja: 1991: 195).
3.
Teknik Dokumentasi
Penelitian akan lebih mudah dan bertahan lama jika diadakan perekaman, baik
itu dalam bentuk foto, buku, maupun perekam suara (Badudu dalam Puspitasi,
2007). Semua itu adalah dokumen, sedangkan dokumentasi adalah kegiatan yang
menyangkut dokumen. Dokumentasi yang dikumpulkan harus utuh dan mutakhir.
Adapun dokumentasi dalam penelitian ini adalah wujud dokumentasi tulisan wawancara
dengan warga dan foto-foto.
5.
Teknik analisis data
Milles dan Huberman (dalam Sutopo, 2002:74) menyatakan bahwa terdapat dua
model pokok dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kualitatif, yaitu
(1) model analisis jalinan atau mengalir dan (2) model analisis interaktif.
Dari dua model dalam melaksanakan analisis di dalam penelitian kulalitatif
tersebut peneliti menggunakan model kedua, yaitu mdel analisis interaktif.
Dalam model analisis interaktif terdiri dari empat kemampuan analisis yaiutu,
reduksi data, sajian data, pengumpulan data, dan penarikan kesimpulan,
aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data
sebagai proses siklus.
Langkah-langkah dalam penelitian ini dapat dipaparkan sebagai berikut.
1. Pengumpulan data, yaitu pengumpulan data di lokasi studi dengan
melakukan observasi, wawancara mendalam, dan mencatat dokumen menentukan
strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan menentukan fokus serta
pendalaman data pada proses pengumpulan data berikut (Sutopo, 1996:89).
2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi pemfokusan, pengabstrakan,
dan transformasi data kasar yang ada dalam lapangan langsung dan diteruskan
pada pengumpulan data (Sutopo, 1996:87).
3. Sajian data yaitu, suatu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan
kesimpulan penelitian dilakukan.
4. Penarikan kesimpulan, sejak awal pengumpulan data peneliti harus
mengamati dan tanggap terhadap hal-hal yang ditemui dilapangan (dengan meyusun
pola-pola asahan dan sebab akibat (Sutopo, 1996: 87).
Dalam penelitian ini, yang pertama kali dilakukan adalah mengumpulkan data
yang dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumen. Dalam penelitian ini
pengumpulan data dilkukan dengan pengamatan langsung mengenai tempat dan lokasi
cerita rakyat Jaka Tarub dan dilanjutkan dengan penarikan informasi secara
mendalam dan langsung dari masyarakat yang menjadi narasumber dalam penelitian
ini. Pengumpulan data dari hasil wawancara dalam wujud dokumentasi, adapun
dokumentasi dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan masyarakat
sekitar lokasi Air Terjun Sekar Langit serta berupa foto dari lokasi air
terjun.
E. Hasil dan Analisis
1.
Deskripsi Wilayah
Air terjun
Sekar Langit terletak di Dusun Tlogorejo desa Tlogorejo Kecamatan Grabag
kabupaten Magelang Jawa tengah, yang berjarak sekitar 61 km dan dapat ditempuh
dengan sepeda motor atau mobil selama 2 sampai 2,5 jam dari kota Yogyakarta.
Air Terjun Sekar Langit
Gambar 1.
Plang Menuju Air Terjun Sekar Langit Gambar 2. Sebelum Memasuki Wisata

Gambar 3. Gerbang utama Gambar 4. Ticketing

Gambar 5. Peta Desa Tlogorejo
Penamaan air
terjun sekar langit berasal dari dua kata yaitu, Sekar yang berarti bunga dan langit
artinya diatas. Jika digabung, Sekar
langit itu berarti keindahan yang
berasal dari atas (langit) dalam hal ini yang berasal dari atas itu adalah
bidadari. Seperti yang diketahui oleh hampir semua kalangan tempat tinggal
bidadari itu berasal dari kayangan,
sedangkan Kayangan itu berada dilangit.
Jika kita
mencari tentang asal-usul Air terjun Sekar langit di media sosial atau di
website yang kita temukan adalah legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang
bidadari yang kemudian memperistri bidadari tersebut. Bidadari tersebut tidak
dapat kembali ke kayangan karena tidak mempunyai selendang untuk terbang dan
akhirnya menikah dengan Jaka Tarub dan membina rumah tangga layaknya manusia
biasa dan dikarunia seorang anak. Namun seiring berjalannya waktu, Bidadari tersebut
mengetahui kebenaran jika yang mencuri selendangnya adalah suaminya sendiri yaitu
Jaka Tarub. Ia pun meninggalkan suami dan anaknya Nawangsari karena kecewa kepada suaminya.
Hal pertama
yang peneliti lakukan adalah mencari infomasi dari beberapa warga sekitar
sepanjang jalan, namun peniliti sendiri menemukan kendala yang sangat sulit
untuk dipecahkan karena peniliti tidak berasal dari Jawa makanya sangat tidak
memungkinkan untuk mengetahui bahasa daerah yang digunakan oleh warga sekitar.
Akan tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menggali informasi
yang lebih banyak guna melanjutkannya. Hal pertama yang dilakukan adalah
mencari informasi dari penjaga objek wisata, dari informasi yang diperolah
informan memberikan bantuan yang sangat berarti untuk melanjutkan penelitian
karena memberikan informasi yang sangat dibutuhkan dengan memberi nama-nama
yang dianggap mengetahui banyak hal tentang cerita atau legenda yang ada air
terjun Sekar Langit.

|
Yang dijadikan informan oleh peneliti dalam hal ini adalah
Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun Tlogorejo) bersedia dihubungi
kembali jika masih ada yang ingin diketahui lebih lanjut serta bersedia
meluangkan waktunnya untuk memberikan informasi yang dibutuhkan peneliti (hasil
wawancara peneliti dengan narasumber akan dilampirkan) dari hasil wawancara
tersebut peneliti memeroleh informasi sebagai berikut:
2.
Hasil Penelitian
Air terjun
sekar langit mulai dibuka untuk umum atau dijadikan objek wisata pada Tahun
1970an, sebelum itu tempat tersebut masih menjadi tempat untuk warga sekitar
untuk keperluan sehari-hari seperti mencuci, mandi dan sebagainya atau belum
dikomersilkan dan belum dikenal oleh masyarakat umum maupun masyarakat luas.
Dari segi penamaan, Air terjun Sekar
langit telah ada, Sekar langit itu sendiri merupakan istilah. Warga sekitar
atau orang tua dahulu menamakan Sekar langit berasal dari kata Sekar yang berarti bunga sedangkan langit berarti sesuatu yang diatas. Jika
digabung Sekar langit berarti sesuatu yang indah dan berasal dari atas karena
terletak diatas pegunungan atau keindahan/kecantikan yang berasal dari atas
(langit).
Legenda Jaka
Tarub itu sebenarnya tidak ada menurut para tetua atau leluhur yang ada di
sekitar air terjun tersebut melainkan dari media sosial atau internet. Ada
kemungkinan yang menulis di internet atau blog hanya mengaitkan
penampakan-penampakan yang ada di Sekar langit dengan sesuatu perwujudan yang
ada dalam Legenda Jaka Tarub. Hal-hal gaib yang sering muncul adalah Angsa Emas
yang sering muncul di sekitar air terjun (beberapa tahun terakhir, fenomena
tersebut tidak pernah muncul atau terlihat lagi). Beberapa penulis yang hanya
mengaitkan hal tersebut sehingga menarik kesimpulan semacam itu. Angsa emas itu
di ibaratkan sebagai Nawang Wulan (istri
Jaka Tarub) yang ingin bertemu anaknya di bumi yaitu Nawangsari harus berubah wujud menjadi angsa. Dia hanya ke bumi
jika rindu atau ingin berkunjung menemui anaknya dan tidak ingin bertemu lagi
dengan suaminya karena kecewa. Nawangsari sendiri tidak bisa ikut ibunya ke
kayangan karena dia tidak murni bidadari melainkan campuran antara manusia dan
bidadari.
Lebih lanjut dan
meluruskan beberapa hal menurut sumber, legenda Jaka Tarub itu berada di
Purwodadi bukan di Tlogorejo (Air terjun Sekar langit). Menurut keterangan yang
peneliti peroleh, beberapa waktu sebelumnya juga beliau didatangi oleh
rombongan diknas budaya dan parawisata Yogyakarta terkait maraknya di situs
internet tentang legenda Jaka Tarub di kawasan wisata tersebut. Kepercayaan-kepercayaan
yang di anut atau dipercaya oleh sebagian orang jika berkujung atau mandi di
Air terjun Sekar langit diantaranya, Awet
muda, menambah aura kecantikan, mempermudah jodoh, membesarkan payudara
(khusus untuk perempuan). Namun semua itu kembali berdasakan keyakinan dari
individu masing-masing untuk percaya atau tidak.

Gambar 7. Air Terjun Sekar langit Gambar 8. Suasana air terjun

Gambar 9. Suasana Air terjun 2 Gambar 10.
Pasangan muda-mudi
Air terjun ini
juga dipercaya dan diyakini oleh sebagian orang berkhasiat untuk kesehatan jika
berendam dibawah pancuran air terjun serta membersihkan diri dari berbagai
penyakit. Beberapa pengunjug yang sempat peneliti temui di lokasi juga
meyakini jika mandi bersama pasangan di
bawah pancuran air terjun yang mengalir langsung dari puncak air terjun akan
berjodoh dengan kekasihnya serta tidak akan ada pertengkaran selama pacaran dan
akan langgeng hingga membina rumah tangga kelak. Jadi, jangan heran jika
berkunjung ketempat ini melihat pemandangan yang dipenuhi oleh pasangan dan
kebanyakan dari kaum wanita, baik sekadar menikmati pemandangan alam yang memang
sangat indah, sejuk dan masih alami serta untuk mandi dan berendam dibawah
pancuran air terjun tersebut sambil bercengkerama dengan teman atau pengunjung
yang lainnya.
Pantangan yang
sangat disarankan dari informan jika mengunjungi kawasan ini adalah jangan
berpikiran kosong ketika memasuki tempat ini disebabkan masih banyak atau
seringnya muncul penampakan disepanjang jalan menuju air terjun. Hal gaib yang
sering menampakkan ditempat ini adalah Angsa
emas, Wewe dan Kuntilanak. Sekitar 400 meter dari areal parkir menuju air
terjun, terdapat sebuah batu yang menyerupai tudung yang sering digunakan oleh
para pengunjung untuk menaruh sesajen ditempat tersebut (bukan warga setempat).
Penyimpanan sesajen itu berupa susunan batu dan terletak diseblah kanan jalan memasuki
kawasan air terjun, adapun sesajen yang biasanya diletakkan ditempat tersebut
adalah Ingkung (ayam utuh yang telah
dimasak atau digoreng namun tetap utuh, dan harus ayam asli Jawa dan ayam jago),
hasil bumi (buah-buahan dan makanan pokok) serta rokok. Sesajen tersebut
diletakkan disana dan berharap mendapatkan pengasihan atau kesehatan, namun
semua itu bergantung dan kembali kepada keyakinan masing-masing untuk percaya
hal tersebut atau tidak lanjut informan.

Gambar 11. Tempat sesajen 1 Gambar 12. Tempat sesajen 2

Gambar 13. Air terjun dan peneliti 1 Gambar 14. Air terjun dan peneliti 2
F. Kesimpulan
Berdasar dari hasil
penelitian yang telah saya lakukan, legenda Jaka tarub yang dikaitkan
dengan Air Terjun Sekar Langit sangat
bermanfaat untuk masyarakat yang ada disekitar lokasi permandian alam tersebut,
dari segi ekonomi misalkan. Dengan ramainya pengunjung yang datang dari daerah
lain memberikan penghasilan tambahan bagi mereka yang berjualan disekitar
lokasi wisata tersebut sehingga lokasi wisata tersebut masih sangat penting
untuk dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.
Sedangkan
untuk bidang kebudayaan dan dinas terkait sendiri peneliti sangat mengharapkan
adanya bantuan atau kerjasama dengan melakukan perbaikan sarana dan prasana
yang ada dilokasi tersebut serta lebih memperhatikan akses ke lokasi
wisata. Objek wisata ini termasuk salah
satu objek wisata yang sangat indah jika dibandingkan dengan objek wisata
lainnya yang ada di Jawa pada umumnya dan Kabupaten Magelang pada khususnya
sebab objek wisata ini memiliki keunikan khusus dengan adanya beberapa acara
atau ritual tertentu yang masih sering dilakukan oleh warga pendatang di area
air terjun tersebut serta masih kentalnya kepercayaan orang sekitar akan
khasiat atau manfaat jika berendam di air terjun tersebut.
Adapun cara
atau metoode yang harus dilakukan untuk pelestarian objek wisata Air Terjun
Sekar Langit adalah dengan cara mempublikasikan dan memperkenalkan objek wisata
tersebut melalui media yang ada di Yogyakarta pada khususnya dan media nasional
pada umunya agar lebih dikenal oleh warga luar sehingga menarik minat untuk
mengunjungi tempat tersebut. Kerja keras dari dinas kebudayaan dan dinas
terkait akan menghasilkan keuntungan dan pemasukan untuk daerah dan warga
sekitar jika objek wisata tersebut telah dikenal oleh masyarakat luar.
Keterangan
Gambar:
Gambar 1. Plang
Menuju Air Terjun Sekar Langit
Gambar 2. Sebelum Memasuki
Wisata
Gambar 3. Gerbang
utama
Gambar 4. Ticketing
Gambar 5. Peta Desa Tlogorejo
Gambar 6. Kepala Dusun
Tlogorejo
Gambar 7. Air Terjun Sekar
langit
Gambar 8. Suasana air terjun 1
Gambar 9. Suasana air terjun 2
Gambar 10. Pasangan
muda-mudi
Gambar 11. Tempat sesajen 1
Gambar 12. Tempat sesajen 2
Gambar 13. Air terjun dan
peneliti 1
Gambar 14. Air terjun dan
peneliti 2
Daftar Pustaka
Aminuddin, 1990. Pengembangan Penelitian
Kualitatif Dalam Bidang Bahasa dan Sastra. Malang: Asah Asih Asuh.
Danandjaja. 1991. Folklor Indonesia: Ilmu
Gosip, Dongeng, dll. Jakarta: Grafiti.
Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran: Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran: Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi.
Jakarta: Bhineka Cipta.
Moleong, Lexy. 1989. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Karya.
Sutopo. H.B. 1996. Penelitian Kualitatif.
Surakarta. Sebelas Maret University Press.
___________. 2002. Penelitian Kualitatif.
__________. Sebelas Maret University Press.
Wildan, dkk. 1980. Stuktur Sastra Lisan
Tamiang. Jakarta: Pusat Bahasa.
Wawancara:
1.
Bapak Mizbahul Munir 085692846654 (Kepala Dusun
Tlogorejo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar